by

Bagaimana Khatam Al-Qur’an Berkali-kali selama Ramadan?

Islam DetikRamadan adalah syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an). Pada bulan ini, Al-Qur’an diturunkan. Lihat keterangannya, antara lain, dalam surah Al-Baqarah/2: 185, Ad-Dukhan/44: 3, dan Al-Qadr/97 : 1-3. Karena itulah, bulan Ramadan dianggap sebagai bulan paling mulia di antara bulan-bulan lainnya. Para ulama sangat menganjurkan agar memperbanyak membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan kemuliaannya. Masalahnya, bagaimana mampu khatam Al-Qur’an berkali-kali selama Ramadan?

Pertama-tama perlu diingatkan kembali, bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan adalah sunnah Rasul. Artinya, hal ini sudah biasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikisahkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ بالخَيْرِ، وكانَ أجْوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ عليه السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ في رَمَضَانَ، حتَّى يَنْسَلِخَ. يَعْرِضُ عليه النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عليه السَّلَامُ، كانَ أجْوَدَ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Nabi Muhammad merupakan manusia yang paling dermawan. Kedermawanannya begitu tampak setiap kali Ramadan tiba, ketika Malaikat Jibril menemuinya. Malaikat Jibril menemuinya di setiap malam bulan Ramadan sampai selesai. Rasulullah membacakan (menyetor, ed.) hafalan Al-Quran di hadapan Malaikat Jibril. Setiap kali Jibril menemuinya, beliau menjadi sangat dermawan melebihi angin yang bertiup.” (Shahih al-Bukhari, hadis nomor 1902)

Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha juga menceritakan bahwa Malaikat Jibril ‘alahis salam selalu mengecek hafalan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sayyidah Fatimah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Malaikat Jibril ‘alaihis salam senantiasa memeriksa bacaan Al-Qur’an Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam setahun satu kali, dan pada tahun wafatnya, Malaikat Jibril mendatanginya sebanyak dua kali.” (Shahih Muslim, hadis nomor 2450; Lathaif al-Ma’aarif, h.234)

Tidaklah mengherankan kalau salafus saleh (generasi terbaik umat Islam di masa dahulu) dengan sangat antusias mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Bahkan mereka seperti mempunyai motivasi lebih sehingga mampu berkali-kali mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan. Kesaksian mengenai hal banyak dilontarkan para ulama terkemuka.

Imam Ibnu Rajab, di dalam Lathaif al-Ma’arif (h. 236-237) mengatakan bahwa  salafus saleh selalu membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ketika mengerjakan shalat Tarawih atau di luar waktu tersebut. Ia menyebut Imam al-Aswad yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hanya dalam dua malam! Artinya, dalam satu malam, Imam al-Aswad membaca Al-Qur’an sebanyak 15 juz. Hal ini juga dilakukan oleh Imam an-Nakha’i pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan.

Baca juga:  Pelaksanaan Shalat Tarawih di Tengah Pandemi Covid-19

Begitu pula Imam Qatadah yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sepekan sekali pada bulan biasa, dan tiga hari sekali di bulan puasa. Bahkan, ketika masuk sepuluh akhir Ramadan, Imam Qatadah tancap gas mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari!

Para imam mazhab, yang ilmunya sundul langit pun demikian. Imam Syafi’i diriwayatkan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama Ramadan, dan hal ini dilakukan di luar shalat Tarawih. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Abu Hanifah.

Imam an-Nawawi, di dalam at-Tibyan (h. 59) mengatakan bahwa sebagian ulama salaf umumnya mengkhatamkan Al-Qur’an paling lama sekali khatam dalam dua bulan, dan paling cepat delapan kali khatam sehari semalam, dengan rincian empat kali khatam di waktu siang dan empat kali khatam pada malam harinya.

Waktu Terbaik Membaca Al-Qur’an

Imam Ibnu Rajab di dalam  Lathaif al-Ma’arif  (h. 234) mengatakan bahwa malam hari adalah waktu terbaik untuk membaca Al-Qur’an, bahkan disunnahkan. Alasannya, pada malam hari segala kesibukan manusia terputus, harapan dan cita-cita terfokus, kemudian hati dan lisan dapat disatukan untuk memikirkan setiap bacaan. Selain itu, hal ini sesuai dengan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Q.S. Al-Muzammil/73: 6)

Senada dengan Imam Ibnu Rajab, Imam al-Qasthallani di dalam Irsyadus Sari (III/353) mengatakan bahwa malam hari bulan Ramadan lebih afdal (utama) dari siangnya, khususnya untuk membaca Al-Qur’an. Lagi-lagi alasannya karena malam hari lebih mendatangkan kekhusyukan dan pemahaman yang utuh atas apa yang dibaca, dibandingkan jika dilakukan pada siang hari.

Terkait dengan hal ini, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa, “Al-Qur’an bersaksi kepada Allah: ‘Aku cegah ia, agar tidak tidur di malam hari, hanya untuk membacaku,’ maka berikanlah izin syafaat kepadaku. Lalu Allah memberi izin kepada Al-Qur’an untuk memberikan syafaat (kepada siapa saja yang membacanya, ed.).” (Lihat, Washaya Imam Hasan al-Bashri li Ahlil Qur’an, h.41).

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Pada dasarnya, membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah yang mempunyai banyak keutamaan. Keutamaan membaca Al-Qur’an ini akan semakin bertambah manakala dilakukan di bulan Ramadan yang juga mempunyai keutamaan tersendiri. Agar lebih termotivasi dalam membaca Al-Qur’an, berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaannya.

Baca juga:  Nasihat Imam Al-Ghazali bagi Para Calon Haji

1. Meraih untung terus-menerus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُور

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah kami anugerahkan kepadanya, secara diam-diam atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Q.S. Fathir/35: 29)

 

2. Mendapatkan yang terbaik walau tidak diminta.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِى عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِى السَّائِلِينَ وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ

“Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah berfirman: ‘Barang siapa yang menyibukkan dirinya dengan Al-Qur’an dan berzikir kepada-Ku, (sampai ia tidak sempat) meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan yang lebih baik dari apa yang Aku beri kepada orang yang meminta. Keutamaan kalam Allah dibandingkan seluruh kalam, seperti keutamaan Allah dibandingkan dengan makhluk-Nya.” (H.R. At-Tirmidzi, nomor 2926, status hadis; hasan gharib)

3. Mendapatkan syafaat (pertolongan) Al-Qur’an di hari kiamat.

Abu Umamah al-Bahili mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِقْرَؤُوا الْقُرْأَنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia akan datang menjadi penolong bagi pembacanya.” (Shahih Muslim, nomor 804)

4. Mengokohkan iman.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْأَنِ كَالْبَيْتِ الْخِرَبِ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Sesungguhnya hati yang tidak ada Al-Qur’an di dalamnya seperti rumah yang roboh’.” (Sunan at-Tirmidzi, nomor 2913; hadis shahih)

Akhirul kalam, marilah manfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Khususnya dengan menghidupkan malam-malamnya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Apalagi di tengah situasi sekarang ini yang mengharuskan kita untuk lebih banyak beribadah “di rumah saja”. Semoga Ramadan tahun ini mendatangkan keberkahan dan nilai terbaik bagi kita semua. Amin.

Comment

Artikel Lainnya