by

Benarkah Setiap Wali itu Memiliki Karamah?

Islam Detik – Banyak orang menduga, wali adalah seseorang yang dapat terjadi pada dirinya sesuatu luar biasa atau karamah (khariqul ‘adah). Padahal hal ini tidak selalu berkaitan dengan hakikat kewalian. Bisa saja orang yang disebut wali karena memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. tetapi tidak tampak dalam dirinya kejadian luar biasa. Sebaliknya, hal-hal yang luar biasa dapat saja dialami oleh seorang pendurhaka atas izin Allah Swt.

Dalam kamus al-Munawwir, kata “wali” memiliki makna dasar dekat. Dari sini kemudian berkembang makna baru, seperti pendukung, pembela, pelindung, yang mengurus, yang menguasai, yang mencintai, lebih utama, teman, dan tetangga.

Menurut pendapat al-Kasyi Kamaluddin Abd al-Razzaq al-Qasyani yang dikutip dari bukunya al-Ishthilahat at-Shufiyyah bahwa wali adalah, “Siapa yang diurus dan dibela oleh Allah kepentingannya, yang dipelihara oleh-Nya dari kedurhakaan. Dia tidak membiarkannya terjerumus dengan nafsunya sampai dia mencapai kesempurnaan, yakni kesempurnaan orang-orang dewasa (para tokoh).” Allah berfirman: “Wa huwa yatawallâ al-shâlihîn (Dia Pelindung orang-orang saleh).” (Q.S. Al-A‘râf/7: 196)

Menurut Imam al-Ghazâlî, dari bukunya al-Maqshad al-Asnâ fî Syarh Asmâ’ al-Husnâ, seseorang yang disebut wali adalah “siapa saja yang mencintai Allah dan mencintai wali-wali-Nya, membela siapa yang membela-Nya, dan membela wali-wali-Nya. Dia memusuhi musuh-musuh-Nya, sedang yang termasuk musuh-Nya adalah nafsu dan setan.”

Seseorang dinilai sebagai wali berkat kepercayaan mereka bahwa hanya Allah Swt. yang menjadi wali mereka, selalu mengandalkan Allah dengan memerhatikan perintah dan larangan-Nya. Mereka menggunakan daya dan potensi dirinya sesuai petunjuk-Nya. Apabila ia gagal setelah berusaha, ia tidak putus asa karena mengembalikan segala urusannya kepada Allah Swt. yang menjadi satu-satunya wali mereka: pembela dan pelindungnya.

Baca juga:  Mengapa Dahulu Saya tak Suka Mereka yang Berbeda

Al-Qur’an melukiskan para wali, antara lain, dalam surah Yunus/10, ayat 62-63, yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Ayat tersebut menyinggung dua hal pokok terkait dengan kewalian, yaitu dampak dari kewalian dan sifat dan sikap dasar yang menandai kewalian. Sifat dan sikap dasar kwalian terdiri atas dua hal, yakni iman dan takwa. Iman merupakan pembenaran hati atas apa yang telah disampaikan Allah Swt. dan Rasul-Nya. Sedang bukti dari pembenaran itu adalah takwa. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat mencapai peringkat tinggi dalam kewalian tanpa usaha keras.

Ada beberapa tahap yang dapat dilakukan agar seseorang dapat mencapai derajat kewalian, di antaranya pada tahapan iradah (kehendak), yakni munculnya hasrat dan keinginan untuk berpegang teguh pada jalan yang membimbing pada kebenaran. Menurut Syekh ‘Abd al-Halim Mahmud, iradah memiliki tiga tujuan pokok, yakni mengesampingkan segala sesuatu selain Allah yang dapat diraih dengan zuhud, pengendalian nafsu yang mendorong agar berada di bawah kendali nafs al-muthmainnah, serta memperhalus sir yang merupakan tempat penyaksian.

Adapun dampak dari kewalian seorang hamba Allah adalah “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak juga mereka bersedih hati.”. Ketiadaan rasa takut dan sedih dalam diri para wali karena mereka menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Swt. Mereka menyadari tiada kejadian kecuali atas kehendak-Nya. Mereka juga amat menyadari dan percaya bahwa segala sesuatu yang bersumber dari Allah Swt. akan berakibat baik.

Salah satu tanda kewalian pula adalah menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai walinya dengan cara mengikuti dan meneladani beliau. Kita perlu ingat bahwa salah satu makna wali adalah pencinta. Dalam hadits disebutkan, tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai Kanjeng Rasul melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri.

Baca juga:  Seperti Apa Hidup yang Berarti itu?

Dalam konteks lain, yang disebut dengan wali setan ialah ia yang menjadikan setan sebagai walinya yang selalu mendorong untuk melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt., serta menghiasi dirinya dengan keburukan. Kewalian para pendurhaka kepada setan adalah dengan mengikuti langkah-langkahnya dan menuruti ajakannya.

Allah Swt. menegaskan bahwa, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah wali-wali setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (Q.S. Al-Nisa’/4: 76)

Wali setan yang dimaksud adalah orang-orang kafir dan semua yang mengajak kepada nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai agama. “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi wali (pelindung) bagi sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Anfal/8: 73)

Jelas sudah bahwa tidak setiap wali memiliki karamah, sekalipun banyak di antara mereka yang dikaruniai hal tersebut atas izin Allah Swt.

Comment

Artikel Lainnya