by

Benarkah Tidurnya Orang Puasa adalah Ibadah?

Islam Detik – Ungkapan pada judul tulisan ini sering kali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan, khususnya di bulan Ramadhan. Dari segi redaksinya saja, ungkapan ini terasa khas dengan hal yang kontroversial, karena tidur selalu dikonotasikan dengan sesuatu yang kurang bagus, identik dengan kemalasan, tetapi malah dianggap termasuk ibadah. Lebih jauh lagi, ungkapan tersebut bukan hanya dijadikan materi ceramah, tetapi disandarkan kepada perkataan Nabi (hadits). Di antara lafazhnya yang paling populer adalah: “Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.

Pertanyaannya, apakah ungkapan itu benar? Persisnya, apakah hadits tersebut mempunyai dasar yang absah dari para pakar hadits sehingga dapat dijadikan hujjah atau dalil? Mari kita simak hal ini dari dua segi, redaksi hadits dan makna!

Segi redaksi hadits; palsu?

Meskipun di dalam kandungan hadits tersebut terdapat beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipatgandakan, tetapi khusus lafazh ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’, para ulama mengatakan bahwa statusnya lemah (dhaif). Namun, sampai sebatas mana kelemahannya, apakah sampai ke tingkat hadits tersebut dianggap palsu?

Al-Baihaqī mengutip hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ di dalam kitabnya, Syu’ab al-Īmān, dari riwayat ‘Abdullāh bin Abī ‘Aufā. Lalu as-Suyūṭī menukilnya di dalam kitabnya, al-Jāmi’ aṣ-Ṣagīr, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif, yang artinya, tidak sampai derajat hadits palsu.

Namun status dhaif yang disematkan Imam as-Suyūṭī justru dikritik oleh para ahli hadits (muḥaddiṡ) yang lain. Menurut mayoritas mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif, tetapi sudah sampai derajat hadits palsu (mauḍū’).

Al-Baihaqī telah menyebutkan bahwa ungkapan ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ bukan merupakan hadits Nabi. Alasannya, salah satu periwayat dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang bernama Sulaimān bin ‘Amr an-Nakhā’ī, yang dikenal sebagai pemalsu hadits.

Hal senada disampaikan oleh al-‘Iraqī yang menyatakan bahwa Sulaimān bin ‘Amr an-Nakhā’ī termasuk ke dalam daftar para pendusta, yang pekerjaannya adalah memalsukan hadits.

Komentar Imam Aḥmad bin Ḥanbal raḥimahullāh juga semakin menguatkan status kepalsuan hadits tersebut. Beliau mengatakan bahwa Sulaimān bin ‘Amr an-Nakhā’ī memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

Penilaian lebih keras diungkapkan oleh Yaḥyā bin Ma’īn. Beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaimān bin ‘Amr an-Nakhā’ī sebagai pemalsu hadits, tetapi menambahkan bahwa dia adalah “manusia paling pendusta di muka bumi ini.

Kritik pedas juga dilontarkan oleh al-Munāwī dalam Faiḍ al-Qadīr. Dalam kitab ini, ia mencecar as-Suyūṭī yang menukil hadits dari al-Baihaqī yang tidak berkomentar terhadap kredibilitas para perawi hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’.

Pertanyaannya sekarang, apakah ada jalur lain dari hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ yang memiliki status yang lebih baik?

Baca juga:  Bidadari Surga untuk Laki-laki yang Berpuasa, Perempuan Dapat Apa?

Pada dasarnya masih ada jalur lain yang statusnya bersih dari perawi pendusta tentang ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’. Namun, yang membuat al-Munāwī heran, mengapa as-Suyūṭī justru menukil hadits dari al-Baihaqī yang dalam sanadnya justru ada seorang pemalsu hadits. Adapun jalur lain tentang ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ adalah hadits yang diriwayatkan oleh az-Zain al-‘Iraqī di dalam kitab ‘Amalī, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar R.A. Pada jalur ini, sekalipun sanadnya lemah tetapi tidak sampai ke derajat pemalsuan.

Selain itu, terdapat pula syāhid atau jalur lain hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abū Nu’aim dalam Ḥilyah al-Auliyā, yang diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin Mas’ud R.A.  Jalur ini diriwayatkan secara marfū’ (bersambung sampai Rasulullah Saw). sekalipun redaksi haditsnya berbeda, tetapi esensi maknanya hampir sama, yang membicarakan tentang ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’. Adapun perawinya, meskipun dinyatakan lemah, tetapi tidak tergolong sebagai pendusta. Sayangnya, jalur hadits ini tidak dapat mendongkrak hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ ke derajat ḥasan li-gairih (berkualitas baik karena terdapat jalur periwayatan lainnya) karena tingkat kelemahannya tidak memenuhi standar.

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ memiliki derajat dha’if yang tidak sampai ke level hadits palsu. Status kepalsuan dari satu jalur hadits tidak selalu membuat status suatu hadits menjadi palsu secara absolut. Sebelum sampai pada vonis tersebut, harus dilakukan peninjauan jalur-jalur lain secara kolektif (al-jam’u). Barangkali hal inilah yang dimaksudkan oleh as-Suyūṭī dengan pernyataannya di awal tulisan ini.

Simpulannya, mengamalkan hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ absah apabila dimaksudkan untuk faḍāil al-a’māl (untuk meraih keafdalan suatu ibadah), karena esensinya tidak mengandung hukum. Tentu saja, dengan catatan, tidak mengambil hadits tersebut dari riwayat al-Baihaqī.

Segi makna; upaya interpretasi progresif

Terlepas dari status riwayat hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ yang diperdebatkan dan simpulannya sudah diketahui, sebenarnya jika mau menelisik lebih dalam hadits tersebut dari segi makna, terdapat beberapa makna progresif yang dapat diinterpretasikan darinya. Dari masing-masing makna yang ada, nantinya dapat diberi catatan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Makna-makna dalam hadits ‘tidurnya orang puasa adalah ibadah’ adalah sebagai berikut.

Pertama,  tidur dalam arti melakukan pekerjaan pasif dapat berfungsi sebagai sarana pencegah dari hal-hal yang dapat menghilangkan hikmah puasa, atau mengurangi nilai kualitas ibadah puasa, dibandingkan dengan aktif bergaul di tengah masyarakat yang berisiko mengucap atau mendengarkan perkataan dusta, gosip, fitnah, menghina orang lain, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, tidur memiliki nilai positif karena menjauhkan pelakunya dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga dapat digolongkan sebagai ibadah.

Baca juga:  Pelaksanaan Shalat Tarawih di Tengah Pandemi Covid-19

Hal tersebut didasarkan pada qiyas (analogi) seorang Muslim yang tidak mampu melaksanakan perintah Rasulullah Saw. untuk bersedekah. Sebagai solusinya, Rasulullah saw. pun bersabda, “Maka hendaklah ia mau untuk menahan dirinya dari keburukan. Karena menjaga diri dari keburukan itu adalah sebuah sedekah.”

Kedua, tidur yang diniatkan untuk mengumpulkan dan memulihkan tenaga sebagai bekal untuk melakukan amal ibadah secara aktif di bulan Ramadhan agar lebih bersemangat dan terkonsentrasi dianggap sebagai hal yang positif dan termasuk dalam kategori ibadah juga. Sebab, semua perbuatan yang dapat menjadi wasilah (perantara) suatu ibadah menjadi lebih baik dan sempurna untuk dilakukan, hal tersebut dianggap sebagai ibadah dan memiliki nilai yang sama dengan ibadah pokoknya. Artinya, jika ibadah tersebut derajatnya wajib, maka perbuatan wasilahnya pun menjadi wajib. Hal ini mengikuti kaidah yang menyatakan, “Mā lā yatimmu al-wājibu illā bihi fahuwa wājibun” (Apa saja yang tidak dapat sempurna sebuah kewajiban diamalkan kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi hal yang wajib pula). Hanya saja, kita harus bijak dalam melakukan perbuatan ini. Jangan sampai durasi tidur justru menyamai, bahkan mengalahkan ibadah pokok yang menjadi target utama untuk dilakukan.

Ketiga, tidur yang dilakukan justru membuat pelakunya meninggalkan amal ibadah selama berpuasa, yang didorong oleh rasa malasa dalam beribadah. Barangkali, hal inilah yang paling relevan dengan realitas umat sekarang. Banyak orang berpuasa dan menghabiskan waktu untuk tidur, lalu beralasan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah, tetapi pada kenyataannya hal itu sekadar alasan untuk menutupi kemalasan dan keengganannya untuk beribadah. Kalau sudah begitu, maka tidur yang dilakukannya memiliki nilai negatif dan sangat jauh dari unsur ibadah. Justru hal itu membuat si pelaku menjadi terhina, bahkan berdosa karena melanggar perintah agama untuk beribadah dan menjauhkan diri dari kemalasan sebagaimana sabda Rasulullah Saw. kepada Abu Umamah.

Selama berpuasa, sudah pasti kita akan menahan diri dari makan dan minum. Imbasnya, mungkin hal ini akan mengurangi energi dalam tubuh kita. Namun, bukan berarti hal itu lantas dijadikan alasan untuk tidak memerangi hawa nafsu yang cenderung ingin bermalas-malasan. Tidur adalah perbuatan mubah (boleh-boleh saja), tetapi mari jadikan tidur ini sebagai sarana yang dapat meningkatkan kualitas ibadah puasa, bukannya sebagai alibi untuk menutupi rasa malas. Tentunya semua ini tergantung dari niat dan kepraktisan amal ibadah yang dapat kita lakukan. Semoga bermanfaat.

Comment

Artikel Lainnya