by

Bolehkah Meminta Curahan Rahmat untuk Nonmuslim?

Islam Detik – Setiap kali ada saudara seiman yang meninggal, kita biasa mendoakannya dengan ucapan, “Semoga Allah merahmatinya (Allahumma-rhamhu).” Bagaimana jika yang meninggal adalah seorang nonmuslim? Bolehkah meminta curahan rahmat untuk nonmuslim?

Pertanyaan itu sempat mengemuka setelah tersiar kabar bunuh diri seorang aktivis LGBT bernama Sarah Higazi. Beberapa orang telah menuduhnya sebagai ateis. Sarah, menurut salah satu sumber, pernah dipenjara dan disiksa gara-gara aksinya memperjuangkan hak-hak kaum LGBT. Setelah itu, ia lari ke Kanada, dan wafat di sana dengan jalan bunuh diri. Sebelum wafat, ia sempat menuliskan pesan berikut dalam secarik kertas:

Kepada saudara-saudaraku, Aku telah berupaya untuk mendapatkan keselamatan, tapi aku gagal, maafkan aku. Kepada sahabat-sahabatku, Pengalaman itu cukup kejam, dan aku tak berdaya untuk melawannya, maafkan aku. Kepada dunia, Kau sangat kejam. Tetapi, aku memaafkanmu.

Kalimat-kalimat itulah yang ditulis Sarah sebelum mengakhiri hidupnya. Respons netizen cukup beragam terhadapnya. Ada yang mengutuk. Ada yang simpatik. Beberapa orang, karena merasa empati, menulis doa agar Allah mencurahkan rahmat kepadanya. Pertanyaannya, apakah doa semacam itu dibolehkan? Apakah boleh memohonkan curahan rahmat untuk nonmuslim?

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Syekh Yusri, salah seorang ulama terkemuka Al-Azhar, melalui halaman Facebooknya. Apa jawabannya?

Syekh Yusri menjawab, boleh-boleh saja. Apa alasannya? Menurut Syekh Yusri, rahmat Allah itu merupakan sifat yang mewujud dalam bentuk yang beraneka ragam. Jika berkaitan dengan orang beriman yang taat maka rahmat Allah mewujud dalam bentuk kemurahan (al-Fadhl). Jika berkaitan dengan orang beriman yang bermaksiat maka rahmat Allah mewujud dalam bentuk ampunan (al-‘Afw). Tetapi jika berkaitan dengan orang kafir maka rahmat Allah mewujud dalam bentuk keadilan (al-‘Adl).

Syekh Yusri, lebih jauh menegaskan bahwa pada saat yang sama kita tidak boleh memastikan orang tertentu apakah akan diperlakukan dengan kemurahan, ampunan, ataukah keadilan. Apakah yang bersangkutan akan masuk neraka atau masuk surga. Kita tidak boleh memastikan itu. Karena hal itu adalah perkara gaib yang hanya dapat diketahui melalui wahyu. Apalagi, kita bukan nabi. Kita tidak pernah mengetahui isi hati orang yang sesungguhnya. Apa yang diyakini orang semasa hidup boleh jadi tidak sama dengan keyakinan yang dia bawa ketika mati. Boleh jadi ada orang muslim, tetapi hatinya ingkar. Boleh jadi ada nonmuslim, tetapi hatinya sudah beriman dengan keimanan yang benar. Lalu ia mati dengan membawa keimanan itu. Ini semua dapat saja terjadi.

Baca juga:  Apa Makna bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat?

Rahmat Allah, papar Syekh Yusri dalam tulisannya, terbagi atas dua macam. Pertama, rahmat yang bersifat umum (rahmah ‘âmmah), dan rahmat yang bersifat khusus (rahmah khâsshah). Rahmat umum berkaitan dengan semua makhluk, tanpa terkecuali, baik muslim maupun nonmuslim. Nabi, seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, diutus sebagai rahmat bagi alam semesta (Q.S. Al-Anbiya/21: 107). Inilah yang disebut sebagai rahmat umum.

Sementara rahmat khusus hanya berlaku bagi orang-orang beriman, dengan dimasukkannya mereka kedalam surga. Keimanan adalah sesuatu yang tersembunyi. Kita tidak pernah tahu apakah seseorang itu benar-benar mati dalam keadaan beriman atau tidak. Yang dapat mengetahuinya hanyalah Allah dan hamba yang bersangkutan. Karena itu, kalau ada orang meninggal, terlepas dari apa pun agamanya, boleh saja didoakan agar yang bersangkutan mendapatkan curahan rahmat yang bersifat umum tadi. Sekali lagi, hal ini dibolehkan, meskipun tidak harus. Jika yang bersangkutan orang saleh maka dengan doa itu, kita meminta kepada Allah agar ia diberikan kemurahan (diberikan balasan yang besar atas amalan yang kecil). Jika berkaitan dengan orang beriman yang bermaksiat, kita memohon kepada Allah agar ia diberikan ampunan.

Sementara itu, jika yang bersangkutan termasuk orang kafir maka kita dengan doa itu, seolah-olah meminta kepada Allah agar ia mendapatkan keadilan. Keadilan pun, tegas Syekh Yusri, adalah bagian dari rahmat. Bahkan ketidak-samaan nasib orang beriman dan orang kafir itu sendiri—dengan dimasukkannya yang satu ke surga dan yang lain ke neraka—adalah bagian dari rahmat. Jadi, ketika kita meminta curahan rahmat untuk nonnuslim, rahmat yang dimaksud ialah rahmat dalam makna yang umum, bukan dalam arti yang khusus. Hal ini boleh, sekalipun tidak harus.

Adapun memohon ampunan (istighfâr) maka tidak diperkenankan. Sebab, terdapat larangan tegas di dalam Al-Qur’an mengenai hal itu. Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman: “Tidaklah pantas bagi nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabatnya setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam.” (Q.S. At-Tawbah/9: 113).

Baca juga:  Mengenal Mu’tazilah, Aliran dalam Islam yang Dituding Menolak Wahyu Al-Qur’an

Lalu bagaimana dengan larangan menyalati orang-orang munafik (orang kafir yang menunjukkan identitas keislaman) seperti yang termaktub di dalam salah satu ayat Al-Qur’an (Q.S. At-Tawbah/9: 84)?

Syekh Yusri menjawab bahwa larangan tersebut hanya berlaku khusus bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, beliau diberi tahu mengenai siapa saja yang benar-benar mati dengan membawa kemunafikan, dan siapa saja yang tidak. Sementara kita, umatnya, tidak diberi tahu oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ. Karena kita tidak menerima wahyu. Karena itu boleh-boleh saja kita menyalati dan memintakan ampunan kepada siapa saja yang secara lahir adalah seorang muslim. Mengenai apakah ia benar-benar beriman atau tidak, semuanya cukup diserahkan dan menjadi urusan Allah Allah subhânahu wa ta’âlâ semata.

Kita tidak diperintahkan untuk mengetahui isi hati seseorang. Kita boleh memintakan curahan rahmat kepada siapa saja yang meninggal. Jika yang meninggal kita kenal sebagai nonmuslim maka rahmat itu bersifat umum. Sementara jika yang meninggal seorang muslim maka rahmat yang dimaksud adalah rahmat yang khusus. Kelak semua makhluk akan mendapatkan rahmat Allah. Orang beriman akan mendapatkan rahmat berupa kemuliaan dan kenikmatan di surga. Sementara orang kafir akan mendapatkan rahmat Allah dengan menerima peristirahatan dan siksaan di neraka.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari Syekh Yusri adalah jangan mudah mengafirkan orang. Apalagi memastikannya sebagai penghuni neraka atau surga. Keimanan dan kekufuran adalah rahasia antara hamba dengan Allah subhânahu wa ta’âlâ.

Keselamatan dan kecelakaan adalah perkara gaib, yang hanya diketahui oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ dan orang-orang pilihan. Kelak, yang akan menyelamatkan seseorang di hari akhirat adalah imannya. Tetapi, sekali lagi, hakikat keimanan sungguh tak akan bisa diterawang manusia. Manusia hanya dapat melihat yang tampak, tetapi tidak kuasa untuk menerawang apa yang tak tampak.

Kalau keimanan merupakan sesuatu yang tersembunyi, lantas mengapa harus menghakimi orang lain, layaknya para nabi?

Comment

Artikel Lainnya