by

Dalam Perjalanan Pulang

Islam Detik – Perjalanan menjadi bermakna tergantung dengan siapa kita melakukan perjalanan itu!

Saya beruntung menghabiskan waktu dua puluh menit perjalanan saya menuju rumah dengan seorang teman yang mengajari saya banyak hal berharga. Ceritanya dan bersamanya adalah harta karun yang saya temukan dalam perjalanan pulang.

Teman saya saat usianya menginjak 29 tahun mengidap kanker rahim—kini 44 tahun. Divonis hidupnya tak akan sampai 30 tahun. Meski bukan Tuhan dan tak layak dipercaya, vonis dokter itu tentu meruntuhkan dunia siapa pun. Tak terkecuali dia. Kenyataan bahwa banyak pengidap kanker yang tak bertahan lama, membuatnya gentar. Siapa pun tak pernah siap. Siapa pun tak pernah merasa cukup memiliki bekal. Siapa pun tak pernah merasa cukup membahagiakan orang-orang yang dikasihinya. Siapa pun tak pernah merasa cukup untuk menebus segala kesalahan yang dilakukan. Segala perasaan kebelumcukupan melakukan yang terbaik semakin diintimidasi oleh waktu yang terasa semakin sempit. Dan yang hanya bisa coba dilakukan adalah berusaha keras untuk mencukupi segala hal yang terasa belum cukup.

Sejak vonis kematian diterimanya, ia mulai membuat rencana untuk mengisi sisa hidupnya dengan hal-hal yang berharga. Menyiapkan sesiap-siapnya kapan pun saat itu tiba. Memenuhi keranjang perbekalannya dengan berbagai amal kebajikan.

Batas terkadang melahirkan hal-hal yang terbaik. Menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak perlu dan hanya fokus pada yang perlu. Membuat kita melakukan hanya yang penting dan tidak pada yang tidak penting. Melakukan tidak hanya hanya yang baik, tapi yang terbaik.

Dan yang salah satu terbaik yang dilakukannya adalah tidak memercayai vonis dokter begitu saja. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya ia memilih pengobatan alternatif. Pengobatan alternatif yang tak pernah memberinya pesimisme. Pengobatan alternatif yang memberinya harapan. Sejak itu, ia melanglang buana dari satu alternatif ke alternatif lain. Berkejaran dengan waktu yang bergulir satu demi satu. Ya, satu demi satu.

Angka satu itu demikan berharga baginya. Sebab menurut dokter usianya tidak akan bertambah lagi. Masih teringat oleh saya saat ia melewati momen pertambahan angka satu pada ulang tahunnya yang ke tiga puluh. Air matanya tumpah selepas kami mengucap doa. Air mata itu air mata yang penuh makna. Air mata itu adalah air mata yang berbicara bagaimana sebuah keyakinan pada Tuhan mematahkan analisa manusia yang penuh kelemahan. Air mata itu adalah air mata tumbuhnya kembali harapan yang pernah patah. Air mata itu air mata yang menandakan betapa terjalnya perjalanan yang dilaluinya. Air mata itu adalah air mata penuh syukur pada pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan hidup. Lebih lama lagi. Satu angka lagi. Untuk melakukan lebih banyak kebaikan.

Dan apakah arti bergulirnya usia bagi saya yang tanpa vonis ini, biasa saja! Padahal meski tanpa vonis, saya belum tentu bisa melampaui usia saya meski hanya satu angka.

*****

“Sehat itu mahal,” ujarnya pada suatu senja saat kami memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu sebelum tiba di rumah.

Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Karena yang mengucapkan berada dalam pengalaman itu.

Saya memandangi mi di mangkuk baksonya. Hanya ada mi di situ. Tanpa bakso. Bakso tanpa bakso lalu apa namanya?

Setelah divonis sakit, ia harus membayar mahal kebebasannya makan apa saja. Ia tak bisa suka-suka makan seperti sebelumnya. Hampir setiap hari ia nyaris mengonsumsi tempe dan tahu, tanpa penyedap rasa. Dan ia sangat konsisten dan disiplin dengan hal itu. Disiplin ini doanya dalam bentuk tindakan.

Baca juga:  Segudang Masalah BPJS Kesehatan

“Apa tidak bosan?” tanya saya. “Bertahun-tahun saya sudah mengonsumsi makanan enak apa saja, jadi ketika sekarang tak bisa dilakukan lagi, bukan menjadi alasan saya untuk tidak bersyukur.” ucapnya.

Saya terdiam mendengar ucapannya. Sembari menyesap kuah bakso yang gurih oleh MSG. Saya masih belum ingin peduli. Meski telah banyak contoh di sekitar saya, bahwa tak semua makanan adalah sahabat bagi tubuh saya. Makanan enak dengan perasa yang bisa meracuni tubuh ini tetap sulit saya abaikan.

Saya dan dia. Seperti berada di antara dua titik yang ekstrem. Dia yang tak bisa makan apa saja. Saya yang bebas makan apa saja. Dia yang yang terpenjara oleh sakitnya sehingga harus mengurangi kegiatan. Saya yang bebas melakukan apa saja. Dia yang memperjuangkan kehidupannya dengan obat-obatan. Dan saya yang tak perlu ‘memperjuangkan’ hidup saya ini. Dalam kedua titik ekstrem itu, dia mengembalikan saya pada sebuah kesadaran. Bahwa semua kebebasan yang saya rasakan hanyalah tipuan. Tipuan yang saya buat dan percaya sendiri. Saya merasa lalai!

“Kalau bisa coba kamu kurangi minuman berbahan pengawet itu,” sarannya memecah lamunan saya. Menunjuk minuman botol favorit saya, yang dulu bisa saya konsumsi 4 botol dalam sehari.

Saya diam. Menarik nafas berat. Bagaimanapun berpisah dengan ‘kebiasaan’ tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski itu demi kebaikan saya sendiri.

*****

Ada saatnya kita berhenti mencari. Begitu pun dengan teman saya. Setelah melanglang buana dari alternatif satu ke alternatif lain, ikhtiarnya berlabuh pada seorang dokter eksentrik, yang direkomendasikan seorang teman.

Jangan berpikir dokter ini seperti dokter-dokter pada umumnya dengan pakaian putih dan berdiam di ruangan yang bersih. Dokter ini sudah lama tidak mandi dan ganti baju. Sejak teman saya berobat sampai terakhir dia berobat, dokter itu masih menggunakan kaos yang sama. Kaos warna merah penuh liur yang menjadi perekat bagi sisa-sisa abu rokok. Ruangan praktiknya bau pesing. Bau pesing yang berasal dari hewan dan dokter itu. Maklum saja dokter itu telah lanjut usia. Faktor usia membuatnya kerap tak mampu menahan diri untuk membuang urine ke kamar mandi. Jadi kalau mau pipis, ya, pipis saja di celana. Belum lagi ruang praktiknya yang tak layak untuk disebut ruang praktik. Ruang praktiknya adalah sebuah koridor yang menyimpan banyak peliharaan. Ada ular. Ada burung. Dan mungkin juga hewan-hewan peliharaan yang tak diakui. Tapi dipelihara di antara barang-barang berdebu dan tidak terawat . Seperti kecoak. Tikus. Yang pasti betah menjadikan ruangan sesak penuh barang-barang antik itu sebagai tempat mukimnya.

“Bagaimana bisa ruangan yang sarat dengan energi negatif itu, bisa menyembuhkan mbak?,” tanya saya.

Saya menganggap bahwa segala yang ‘tidak enak’ dan ‘tidak nyaman’ itu sebagai sesuatu yang negatif.

Sesungguhnya tak hanya saya, tapi juga keluarganya, bahkan suaminya pun tak yakin bahwa tempat itu dapat menyembuhkannya.

Honey yakin mau berobat di tempat ini?,’ begitu tanya suaminya ketika tiba di tempat mengerikan itu. Bahkan setiap mengantar teman saya ini, suaminya tak pernah ikut masuk. Dia menunggu di depan ruang praktik dengan bekal penutup hidung yang diberikan teman saya untuk melindunginya dari aroma tak sedap.

Baca juga:  Mana Mimpi yang Benar dan yang Bunga Tidur?

“Tempat itu adalah tempat yang sesuai dengan keinginanku. Tidak ada kemoterapi dan angkat rahim seperti yang ditawarkan rumah sakit,” ujarnya yang menemukan sesuatu yang positif dari tempat yang negatif.

Sebelum sampai ke tempat itu, setahun yang lalu ia memutuskan kembali ke rumah sakit. Kondisinya saat itu begitu buruk. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, ia diharuskan menjalani pengobatan dengan kemoterapi dan pengangkatan rahim untuk membersihkan sel kankernya. Ia sudah siap melakukannya. Namun, kesiapan itu berubah setelah dokter menyatakan bahwa kemoterapi dan pengangkatan rahim tak menjamin kesembuhannya. Kalau tak sembuh, lalu untuk apa mengorbankan dirinya dan rahimnya? Ia dan suaminya pun memutuskan kabur. Dalam masa kabur itu sebuah pesan masuk di ponselnya. “Coba saja suntik nuklir di dokter B, Mbak,” saran temannya. “Di mana?” tanyanya. “Di Menteng,” jawab temannya. Tanpa pikir panjang ia melarikan dirinya ke tempat itu.

Sejak itu ia menjalani pengobatan di dokter eksentrik itu dengan telaten. Seiring berjalannya waktu pengobatan semakin jarang dilakukan. Mulai dari setiap hari, menjadi seminggu tiga kali, seminggu dua kali, dan akhirnya hanya sesekali. Hampir setahun sudah dia menjalani pengobatan, sampai suatu ketika dia mengumumkan kesembuhannya. Dia memperlihatkan pemeriksaan laboratorium yang tak lagi mendeteksi sel kankernya. Kami semua tenggelam dalam kebahagiaan. Akhirnya perjuangan panjang selama tujuh tahun itu menuai hasil yang manis.

Sejak hari itu, tak pernah lagi saya dapatkan ia tiduran di mushala dengan tempat penyimpan air panas di atas perutnya yang diserang rasa sakit. Tak pernah lagi saya dengarkan cerita mengenai puluhan pembalut yang harus digantinya dalam sehari. Tak pernah lagi saya dengarkan cerita memperjuangkan sebuah perjalanan karena kucuran darah yang menguras tenaganya dan memaksanya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Tak pernah lagi saya dengarkan lagi perihnya terlihat baik-baik saja saat perjalanan menggunakan kereta dari Surabaya ke Jakarta hanya karena tak ingin membuat suaminya cemas. Padahal darah dalam bentuk gumpalan telah menyerap segala energinya. Dan saya memang tak pernah berharap lagi untuk mendengar cerita-cerita itu.

Dirinya dan kesembuhannya merupakan sebuah keajaiban bagi saya. Keajaiban yang tercipta dari cinta yang begitu besar dari Tuhan, keluarganya, suaminya, dan sahabat-sahabatnya.

*****

Dan sore itu setelah sekian lama bertualang, ia kembali pulang ke rumahnya. Kembali menemani perjalanan saya selama dua puluh menit. Kembali menikmati aroma tanah basah setelah hujan. Kembali menikmati rumah-rumah barbie di sepanjang kompleks perkantoran kami. Kembali menikmati kemacetan yang mulai mengakrabi perjalanan menuju rumah kami. Semua tampak begitu indah. Bagaimana tidak, perjalanan itu adalah perjalanan saat saya melihat sebuah kesabaran, penerimaan, keikhlasan, kepercayaan kepada Tuhan, menjadi pemenang.

“Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku.”

Tiba-tiba petikan hadits Qudsi itu terasa demikian dalam bagi saya. Saya tenggelam dalam ekstase pada perjalanan kali itu: bersamanya!

Bekasi, 27 Oktober 2015

Comment

Artikel Lainnya