by

Hukum Mendonorkan Air Susu Ibu (ASI)

Apa hukum mendonorkan Air Susu Ibu (ASI) menurut hukum Islam? Hukum mendonorkan Air Susu Ibu (ASI) dalam perspektif Islam ternyata praktik yang mulia. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT agar setiap Muslim saling tolong-menolong dalam kebaikan (QS. Ali Imran/3: 23).

Kehalalan praktik mendonorkan ASI juga tidak perlu diragukan. Di dalam Al-Qur’an terdapat ketentuan mengenai ibu yang diharuskan menyusui bayinya sendiri atau meminta bantuan kepada orang lain agar bayinya itu tetap mendapatkan asupan ASI.

Allah SWT berfirman: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah/2: 233)

Ayat yang lain juga menerangkan bahwa jika sang ibu berhalangan karena beberapa sebab yang membuatnya tidak dapat menyusui, maka ia boleh menyusukan anaknya kepada orang lain. Firman Allah SWT: “Jika kamu menemui kesulitan (dalam menyusui), maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya…” (QS. At-Thalaq/65: 6)

Dari dua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan menyusui bagi seorang ibu adalah suatu kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan. Sebab, hanya perempuan saja yang didesain mempunyai payudara berisi susu. Sedangkan pada laki-laki tidak demikian.

Tujuan-tujuan dan motivasi duniawi yang membuat seorang ibu enggan untuk menyusui anaknya, seperti ingin menjaga kecantikan dan kebagusan bentuk payudaranya agar tetap menarik, sibuk kerja di luar rumah, tidak punya waktu, dan alasan lain tidak dapat mengugurkan kewajiban seorang ibu dalam menyusui bayinya.

Ketika mengisahkan perjalanan mikrajnya, Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Kemudian Malaikat itu mengajakku melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat beberapa perempuan yang payudaranya dicabik-cabik ular ganas. Aku bertanya: ‘Apa yang terjadi dengan mereka (waktu di dunia)?’ Malaikat itu menjawab: ‘Mereka adalah para perempuan yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syari)’.” (HR. Ibnu Hibban, no. 7491)

Baca juga:  Anak Dermawan Impian Orangtua

Dalil-dalil tersebut mengindikasikan bahwa seorang ibu yang sehat dan mempunyai ASI, tetapi sengaja tak mau menyusui bayinya tanpa alasan yang jelas maka telah dihukumi berdosa. Sehingga balasan akhirat siap menantinya.

Agama hanya membuka pintu keringanan bagi seorang ibu dalam mempersingkat masa penyusuan dan menyapih bayinya tidak sampai genap 2 tahun masa penyusuan, selama suami dan ayah si bayi menyetujuinya. Seorang ibu dibolehkan untuk meninggalkan kewajiban menyusui apabila sang suami merelakannya, kegiatan menyusui dapat menganggu kesehatan dirinya, atau ia sedang sakit, mengidap penyakit, atau si bayi yang memang tak mau disusui.

Hubungan Mahram karena Susuan

Dalam keadaan si ibu tidak dapat menyusui bayinya, maka ia dibolehkan untuk mencari pengganti ASI atau meminta kepada orang lain sebagai pendonor ASI. Hanya saja, penggunaan donor ASI ini mempunyai konsekuensi hukum lain, yakni terjadinya mahram antara bayi dengan pendonor ASI yang menyusuinya. Hubungan mahram ini mengakibatkan haramnya pernikahan sebagaimana berlaku haramnya pernikahan lantaran sebab pertalian atau hubungan nasab keluarga, kecuali dalam soal kewarisan harta.

Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan…” (QS. An-Nisa/4: 23)

Sekalipun demikian, status mahram susuan tidak serta merta bisa terjadi begitu saja. Ada syarat-syarat tertentu menyangkut usia bayi dan periode susuan, frekuensi dan atau jumlah susuan, cara menyusu, dan identitas donor ASI yang menyebabkan status mahram terjadi antara bayi yang disusui dengan ibu pendonor yang menyusuinya.

Baca juga:  Kapan Sebaiknya Pasangan Suami Istri Bercinta? [Bagian 1]

Pertama, menyangkut usia bayi dan periode susuan. Para ulama sepakat bahwa terjadinya mahram (haramnya terjadi pernikahan) apabila bayi berusia di bawah 2 tahun menurut perhitungan bulan Hijriah ketika menyusu pada ibu pendonor ASI. Jika bayi berusia lebih dari 2 tahun, apalagi sudah pula disapih oleh ibu kandungnya, lalu setelah itu disusui oleh perempuan lain, maka tidak terjadi hukum mahram.

Hal itu salah satunya berdasarkan hadis: “Tidak berlaku hukum persusuan setelah anak mencapai usia dua tahun.” (HR. Ad-Dâruquthni, Kitâb ar-Radhâ’ah)

Kedua, menyangkut frekuensi dan jumlah susuan. Hukum mahram hanya bisa terjadi jika bayi menyusu kepada pendonor ASI yang sama sebanyak 5 kali susuan, di mana tiap sekali susuan itu bayi merasa kenyang.

Hal itu didasarkan pada hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: “Dahulu, dalam apa yang diturunkan dari Al-Quran (mengatur bahwa) sebanyak sepuluh kali susuan yang diketahui yang menyebabkan keharaman, kemudian dinasakh (dihapus dan diganti hukumnya) dengan lima kali susuan yang diketahui, kemudian Nabi saw wafat, dan itulah yang terbaca di dalam al-Quran.” (HR. Muslim)

Comment

Artikel Lainnya