by

Kapan Sebaiknya Bercinta dengan Suami? [Bagian 2]

Islam-detik.com Selain ada saat-saat di mana pasutri diwajibkan untuk berhubungan intim seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya, ada pula waktu-waktu sunah dan haram bagi pasutri untuk berhubungan intim. Mengapa?

Persenggamaan dihukumkan sebagai sunah bagi suami setiap kali sang istri memintanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, yang artinya: “…dan bergaullah dengan mereka (istri) dengan cara yang makruf (baik/elok).” (Q.S. An-Nisa/4: 19)

Juga berdasarkan hadis Rasulullah Muhammad SAW, di mana beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan istriku.” (H.R. At-Tirmidzi)

Hubungan intim merupakan hak bagi suami dan kewajiban bagi istri. Artinya, jika salah satu dari keduanya mengajak “perang”, maka pihak yang lain harus menyambut tantangan tersebut. Seorang istri yang menolak hubungan intim dengan suaminya padahal ia tidak dalam keadaan berhalangan yang dibenarkan agama (udzur syar’i), entah karena sedang haid atau sakit, maka ia akan mendapat laknat (murka) dari para malaikat. Sebagian ulama bahkan menghukuminya telah melakukan nusyuz (durhaka).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan, sehingga suami marah di malam harinya, maka malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (H.R. Bukhari)

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa keridhaan istri untuk meluluskan hasrat suaminya merupakan bentuk ketaatan. Selama istri mampu melayani suaminya, maka ia harus menunaikannya. Seandainya pun istri tidak dalam keadaan mood yang baik sehingga ia menolaknya, maka sebisa mungkin istri tidak sampai menyakiti hati suaminya, apalagi hingga membuatnya marah.

Sebaliknya pula, seorang suami harus memenuhi kebutuhan batin istrinya, jika istrinya sedang menginginkannya. Dalam konteks ini, seorang istri harus lebih berterus terang jika sedang membutuhkan “sentuhan” suaminya. Tidak perlu ada rasa malu mengenai hal ini. Apalagi umumnya para suami cenderung bersikap cuek, sehingga mereka sering kali hanya “lengket” ketika ada maunya saja. Untuk itu seorang istri harus lebih “genit” menghadapi suaminya.

Memang benar, bagi sebagian istri, kebutuhan seksual sering dinomorduakan dari pada pemberian material, perhatian, dan kasih sayang suaminya. Namun, tidak dapat dimungkiri para istri pada umumnya tetap memerlukan pemenuhan hasratnya, terutama kepada mereka yang dikarunia hasrat seksual tinggi. Sebab itu penting bagi para istri untuk mengingatkan kepada suami akan hak-hak istrinya. Ingatkan pula kepada suami bahwa hubungan intim yang dilakukannya kepada istrinya merupakan sedekah yang bernilai pahala.

Baca juga:  Menyiapkan Malam Pengantin Baru [Bag. 4]

Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Saw, dari hadis yang diriwayatkan Abi Dzar al-Ghifari RA, bahwa beliau bersabda: “Dan pada kemaluan (istri) salah seorang di antara kalian adalah sedekah. Maka para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendatangi keluarganya (menyetubuhi istri) akan mendapatkan pahala?’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Bukankah jika dia menunaikannya di tempat yang haram, dia akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula seandainya dia menunaikannya di tempat yang halal (istrinya), ia akan mendapatkan pahala.’” (H.R. Muslim)  

Waktu Haram

Persenggamaan di antara suami dan istri dapat menjadi haram jika dilakukan pada waktu-waktu yang diharamkan. Pertama, haram bersenggama saat sedang haid. Persenggamaan di waktu ini, alih-alih mendapat pahala malah mengakibatkan berdosa. Allah Swt berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari  wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Q.S.  A-Baqarah/2: 222)

Kedua, haram hukumnya berjimak saat sedang menjalani nifas (setelah melahirkan). Dalil berjimak pada saat nifas dianalogikan (qiyas) dengan keharaman menjimak istri yang sedang haid. Hikmah dari pelarangan ini, juga berjimak saat sedang haid, adalah agar suami dan istri tidak saling menularkan penyakit satu sama lain.

Ketiga, haram hukumnya berjimak saat sedang menjalankan ibadah puasa. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt: “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalianpun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 187)

Baca juga:  Apa itu Senggama Terputus? Apa Hukumnya dalam Islam?

Keempat, diharamkan berjimak saat menunaikan ibadah haji. Allah Swt berfirman: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats (berkata yang menimbulkan syahwat atau bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 197)

Kelima,  diharamkan mengajak suami untuk berjimak, sedang ia tengah beritikaf di masjid, pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman: “…janganlah kalian mencampuri mereka (istri) sedangkan kalian sedang beritikaf di dalam masjid.” [Q.S. Al-Baqarah/2: 187]

Keenam, istri haram dijimak oleh suaminya setelah mendapat perlakuan Zhihar. Zhihar adalah sumpah yang diucapkan seorang suami kepada istrinya yang bertujuan untuk mengharamkan dirinya menyetubuhi istrinya. Zhihar dilakukan seorang suami kepada istri dengan menyamakan istrinya itu seperti ibunya sendiri yang haram disetubuhi. Perbuatan ini sangat dikecam oleh Allah Swt, sehingga hukumannya pun berat. Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak mampu (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” [Q.S. Al-Mujadilah/58: 3-4]

Sebaiknya para istri memberitahukan suaminya akan waktu-waktu bersenggama di atas agar kehidupan rumah tangga semakin bahagia dan harmonis, serta mendapat ridha Allah Swt. Harus pula diingat, keberhasilan persenggamaan tidak selalu diukur dari kuantitasnya, lebih penting lagi adalah menjaga kualitasnya. Wallahu a’lam bis-shawab. [@abumubirah/berbagai sumber]

Comment

Artikel Lainnya