by

Kapan Sebaiknya Pasangan Suami Istri Bercinta? [Bagian 1]

Islam-detik.com Obrolan mengenai kapan waktu yang baik untuk berhubungan intim di antara pasangan suami istri barangkali sama purbanya dengan keberadaan manusia itu sendiri. Dimensi pembicaraan mengenai hal ini juga dikenal berbagai lapisan masyarakat. Topik ini diperbincangkan mulai dari pengunjung di warung kopi hingga di ruang-ruang seminar dokter kesehatan. Ajaibnya topik ini selalu hangat untuk dibicarakan.

Dari sekian banyak perbincangan mengenai waktu terbaik untuk bercinta di antara pasangan suami istri agaknya lebih banyak mengakomodasi tuntutan fisis dan psikologis. Sasarannya agar hubungan intim lebih hot, lebih memuaskan, lebih tahan lama, lebih berhasil, lebih nikmat, lebih nyaman, dan sebagainya. Sedikit yang memperhatikan bahwa pemilihan waktu untuk bercinta di antara pasangan suami-istri seharusnya juga mempertimbangkan aspek spiritual.

Padahal rekomendasi atau anjuran ajaran agama adalah sesuatu yang tak boleh diabaikan. Sebab apa yang hendak dicapai dari suatu hubungan intim di antara pasangan suami-istri sejatinya bukan hanya untuk mendapatkan sensasi kenikmatan belaka. Selain agar tercapai keharmonisan keluarga, hal penting lain yang hendak didapat darinya adalah pengharapan dan ungkapan syukur guna mendapat berkah ilahi berupa pahala, serta memperoleh anugerah keturunan yang diberkahi.

Ultimatum untuk Suami

Hukum fikih Islam mengenal banyak dimensi waktu di mana pada suatu masa hubungan intim di antara pasangan suami-istri adakalanya diwajibkan, yang artinya jika salah satu pihak menolak ia dapat menanggung dosa. Akan tetapi, pada kali lain suatu hubungan intim dapat bernilai sunah, atau haram.

Seandainya seorang suami “dingin” kepada istrinya, para istri harus mengingatkan bahwa suami jangan melulu egois dan hanya mau menang sendiri dalam bercinta. Kasus tentang suami yang bersikap “dingin” kepada istrinya pernah terjadi di masa Rasulullah SAW.

Alkisah, setelah kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan Abu Darda RA dengan Salman al-Farisi RA. Pada suatu hari Salman RA mengunjungi saudaranya itu. Sesampainya di rumah Abu Darda RA, ia melihat Ummu Darda RA tampak galau, wajahnya kusut.

Salman RA pun bertanya kepada Ummu Darda RA, “Ada apa kiranya?”

Ummu Darda RA menjawab, “Saudaramu Abu Darda RA sudah tidak butuh lagi (perempuan) di dunia.”

Salman RA segera paham apa yang dimaksud Ummu Darda RA, setelah mencermati perilaku Abu Darda RA yang memang hobi ibadah. Ya, hobi. Betapa tidak, sepanjang siang, Abu Darda RA berpuasa, dan malamnya tahajud semalam suntuk.

Baca juga:  Resepsi Mewah Bikin Susah dan Jauh dari Sunnah

Pada hari kedatangannya itu, Salman RA pun meminta Abu Darda RA untuk berbuka setelah ia memasak makanan untuk saudaranya itu. Pada malam harinya, ketika Abu Darda RA terjaga hendak melakukan shalat tahajud, Salman RA mencegahnya. Dua kali Salman RA mencegah Abu Darda RA untuk shalat tahajud dan menyuruhnya agar tidur. Pada sepertiga malam yang terakhir, Salman RA baru membangunkan Abu Darda RA untuk menunaikan shalat tahajud.

Selanjutnya Salman RA memberi sedikit wejangan kepada saudaranya itu: “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan istrimu (keluarga) juga memiliki hak atasmu, maka hendaknya engkau tunaikan setiap hak kepada yang berhak menerimanya.”

Setelah mendengar pendapat Salman RA, rupanya Abu Darda RA tidak puas dengan jalan pikiran saudaranya itu. Ia berpikir, mengapa hobinya beribadah harus dibatasi? Dia pun mengadu kepada Rasulullah SAW atas apa yang dilakukan Salman RA. Setelah mengadukan halnya, Abu Darda RA mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Salman benar.”

Kisah tersebut adalah terjemahan bebas atas hadis panjang yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari [no. 1968]. Tampak dalam hadis tersebut ibadah yang lain tidak dapat menggugurkan pemberian nafkah batin dari seorang suami kepada istri yang memang berhak menerimanya.  

Menimbang hal itu pasangan suami-istri keluarga Muslim sepatutnya mengetahui dimensi-dimensi waktu kapan hubungan intim dapat diwajibkan, disunahkan, atau harus dihindari karena terlarang (haram).

Waktu Wajib

Para ulama memberikan batas waktu maksimal sampai kapan seorang suami boleh tidak “menyentuh” istrinya, dan dalam keadaan mana saja ia dilonggarkan dalam memberikan nafkah batin kepada istrinya. Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni [7/303-304] mengatakan bahwa menjimak istri hukumnya wajib bagi suami kapan pun waktunya, terutama apabila suami tidak mempunyai uzur semisal lemah syahwat, sakit, dan sebagainya.

Baca juga:  Stop Mengobral Masalah Ranjang

Sedangkan Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [9/373]  mengutip pendapat Imam Malik, yang mengatakan bahwa pada dasarnya seorang suami wajib secara rutin memberikan nafkah batin kepada istrinya minimal 4 hari sekali, dengan pengandaian jika sang suami menjalankan poligini, jika tidak dalam keadaan darurat. Pendapat Imam Malik ini juga dikutip di dalam kitab Fawakih ad-Dawani ‘ala Risalah Ibnu Abi Zayd.

Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan pula bahwa kaum salaf umumnya menentukan kewajiban bagi suami untuk “mendatangi” istrinya minimal 1 kali setiap kali istrinya suci dari siklus haid yang dijalaninya. Artinya, jika istrinya menjalani masa haid antara 7 hari, maka dalam 13 hari seorang suami harus menyetubuhi istinya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka ia akan menanggung dosa.

Ibnu Taymiyyah agak longgar dalam memberikan kewajiban bagi suami untuk menjimak istrinya. Sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni, dia mengatakan bahwa nafkah batin bagi perempuan adalah kebutuhan paling utama yang melebihi kebutuhan makan. Dia menambahkan bahwa sebagian ulama sepakat mengenai waktu terlama pemberian nafkah batin tersebut adalah selama 4 bulan.

Bagaimana jika seorang suami yang normal tetap dingin, mendiamkan, serta tidak menyetubuhi istrinya selama 4 bulan? Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang istri punya hak untuk mengajukan cerai (khulu’) kepada suaminya itu.

Paling longgar mengenai kewajiban suami untuk menyetubuhi istri diutarakan Imam Syafi’i. Sebagaimana dikutip Ibnu Hajar al-Asqalani, sang imam hanya mewajibkan seorang suami untuk menyetubuhi istrinya sebanyak 1 kali seumur hidupnya. Jadi, jika sekali saja suaminya menjimak istrinya, maka ia terbebas dari beban dosa apabila mendiamkan istrinya. Wallahu a’lam bis-shawab. [@abumubirah/berbagai sumber]

Comment

Artikel Lainnya