by

Keutamaan Orang yang Berpuasa

Islam Detik – Berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Syariat ini pertama kali diwajibkan bagi umat Islam di Madinah, pada tahun ke-2 Hijriah. Selama hidupnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani puasa Ramadan sebanyak sembilan kali. Sepanjang masa itu pula, beliau mengajarkan umat cara berpuasa yang benar, dan mengungkapkan apa saja keutamaan orang yang berpuasa.

Nah, apa saja keutamaan orang yang berpuasa itu? Berikut ini adalah uraiannya seperti dirangkum dari kitab al-Mu’tamad fi Fiqh Imam asy-Syafi’i (II/156).

Doa orang berpuasa dikabulkan oleh Allah.

Hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendegar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ : وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Ada tiga golongan manusia yang do’anya tidak akan ditolak, yakni orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi, Allah akan mengangkat doanya sampai di atas awan dan dibukakan pintu-pintu langit untuknya, dan Allah berfirman, ‘Demi keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu meskipun tidak serta merta.’” (H.R. Tirmidzi, nomor 3598, kualitas hadis hasan)

Berdasarkan riwayat tersebut, saat-saat berbuka puasa adalah waktu yang makbul untuk berdoa. Kita dapat meminta apa saja kepada Allah subhanahu wa ta’ala sesuai keperluan yang diinginkan.

Bagaimana memanfaatkan momentum tersebut?

Sesaat setelah azan Magrib berkumandang, bacalah doa berbuka puasa berikut:

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika afthartu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki yang Engkau beri, aku berbuka puasa).

Setelah itu, bacalah basmalah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Kemudian, makanlah tiga buah kurma. Kalau tidak ada, cukup minum air putih atau teh manis untuk membatalkan puasa. Lalu, berdoalah.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

Dzahaba zhma`u wabtallatil-‘uruq wa tsabatal-ajru, insyaallah (Telah hilang rasa hausku. Telah basah tenggorokanku. Pahala telah ditetapkan untukku, atas izin-Mu ya Allah).

Kemudian, panjatkanlah doa, apa saja sesuai dengan hajat yang diinginkan. Karena pada saat inilah, waktu yang makbul untuk memanjatkan segala permohonan.

Baca juga:  Arti dan Hukum Puasa Tarwiyah

‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash kerap memanjatkan doa berikut, ketika berbuka puasa.

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَلِيْ

Allahumma innii as-aluka birahmatika allatii wasi’at kulla syai-in an taghfirali (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang sangat luas, yang meliputi segala sesuatu, ampunilah segala kesalahan-ku, ya Allah…” (Targhib wat-Tarhib, II/112)

Mendapatkan pahala istimewa dari Allah.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam karyanya, Fath alBari (IV/127-129) menjelaskan maksud redaksi hadis, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang membalasnya.” Ia mengatakan bahwa puasa adalah ibadah yang jauh dari riya. Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan pahala yang sangat besar dan langsung memberikan kemuliaan dan keagungan. Karena itulah, nilai puasa menjadi sangat istimewa.

Hal itu ibarat orang yang mendapatkan piala presiden yang langsung diberikan oleh presiden sendiri, tidak diwakili oleh siapa pun. Sama halnya ketika seorang istri atau suami yang mendapatkan hadiah langsung dari pasangannya, tidak melalui jasa pengiriman. Tentunya pemberian itu jauh lebih bernilai dan memiliki efek kejut tersendiri sehingga semakin tumbuh rasa sayang di antara keduanya.

Puasa sebagai tameng/perisai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan puasa seperti tameng/perisai. Dalam perang, tameng berfungsi sebagai pelindung tubuh dari serangan musuh. Apa pun senjata yang dipakai musuh, jika pakai tameng/perisai, insyaallah akan aman. Demikian pula puasa, ibarat tameng/perisai yang membentengi seseorang dari perkataan maupun perbuatan buruk yang muncul dalam diri karena dorongan hawa nafsu.

Pada diri setiap orang terdapat musuh besar, yaitu hawa nafsu, yang wajib diperangi. Ibrahim bin Abi ‘Ablah berkata:

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ اِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ جِهَادُ النَّفْسِ وَالْهَوَى

“Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad besar, yakni jihad/memerangi hawa nafsu.”

Imam al-Qurthubi berkata, “Sudah sepantasnya orang berpuasa menjadikan puasanya sebagai alat menjaga dirinya jangan sampai melakukan hal-hal yang merusak hukum sah dan mengurangi nilai puasa.” (Fath al-Bari/4:123)

Karena itulah, orang yang berpuasa wajib meninggalkan kata-kata kasar, kotor, cacian, makian, dan merendahkan orang lain. Tentu saja, juga harus meninggalkan perbuatan kasar, main pukul, tending, dan sebagainya yang bersifat fisik. Jika tidak ditinggalkan, yakinlah puasa yang dijalankan hanya akan memperoleh nilai “0” di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, seseorang hanya akan mendapatkan lapar dan haus belaka.

Baca juga:  Ramadan adalah Bulan Doa Mustajab

Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari (nomor 1903), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk, jika ada orang yang mencela, memaki, atau berkata kasar, terlebih lagi sampai menggunakan kekerasan fisik, maka sampaikan kepadanya, Maaf, saya sedang berpuasa. Sampaikan beberapa kali agar ia menghentikan itu semua. Jika tidak, maka tinggalkanlah ia, jangan diladeni.

Bau mulut orang berpuasa itu lebih wangi dari pada misik.

Mulut orang yang berpuasa dikatakan wangi seperti minyak misik. Ulama hadis menjelaskan maksud pernyataan ini, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan balasan pahala yang besar di hari kiamat. Sampai-sampai orang berpuasa itu dicintai dan disukai pada hari kiamat, di antaranya oleh para malaikat, yang membaui mulut mereka seperti wangi minyak misik yang disukai manusia di dunia (lihat, Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 4: 278-288).

Mendapatkan dua kebahagiaan.

Tidak ada manusia yang mau sengsara dan hidup susah. Semua orang ingin bahagia. Namun, tidak sedikit orang yang ingin bahagia menempuh jalan yang salah sehingga bahagia yang didapat hanya sementara. Seperti kebahagiaan karena hidup berfoya-foya dan mengumbar nafsu syahwat semena-mena. Semua itu tipuan belaka.

Berbeda dengan kebahagiaan orang yang berpuasa, yang merupakan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan orang berpuasa terdapat pada dua keadaan. Pertama, ketika ia berbuka. Kedua, ketika ia berjumpa dengan Tuhannya.

Siapa orang yang berpuasa, lalu berbuka, tetapi merasa sedih? Dapat dipastikan tidak ada yang seperti itu. Banyak tanda orang berpuasa amat berbahagia ketika berbuka puasa. Lihatlah, banyak menu berbuka puasa disediakan. Kalau perlu dicari ke mana pun. Inilah tanda kalau orang berpuasa itu merasa bahagia sekali kalau berbuka. Nah, ini barulah kenikmatan di dunia.

Adapun kebahagiaan yang tak ternilai tentu saja ketika orang berpuasa berjumpa dengan Tuhannya, Allah subhanahu wa ta’ala. Dijelaskan dalam hadis Muslim, “…lalu Allah buka hijab untuk mereka, tidaklah mereka diberikan sesuatu hal yang paling mereka sukai dan cintai melainkan melihat Tuhan mereka, itulah yang disebut dengan ziyadah.” (Tafsir Ibnu Katsir, surah Al-Qiyamah/75: 23)

Demikianlah keutamaan orang yang berpuasa. Semoga uraian tersebut menambah motivasi kita untuk menjalankan puasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Comment

Artikel Lainnya