by

Khaled Abou El Fadl, Pemikir Islam yang Dahulunya Seorang Fundamentalis (2)

Islam Detik – Segala sikap otoriter yang ditunjukkan oleh pemuka agama pasti mendapatkan kritik dari Khaled Abou El Fadl. Hal ini dapat kita kita lihat melalui karyanya, “Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif” dan “Melawan “Tentara Tuhan”: Yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Wacana Islam”.

Dua buku tersebut merupakan bentuk perlawanan Khaled kepada mereka yang bersikap otoriter dan sewenang-wenang dalam wanana keagamaan. Mereka yang merasa bahwa penafsirannya terhadap Islam-lah yang benar dan di luar dari itu adalah batil. Mengambaikan ontologis (keberadaan) Tuhan serta mengambil alih peran-Nya sebagai yang paling mengetahui tentang apa yang dikehendaki-Nya lewat al-Quran.

Khusus dalam karyanya yang pertama, Khaled memfokuskan kritiknya terhadap sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh organisasi-organisasi Islam di Amerika, dalam hal ini adalah fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh CLRO (Council for Scientific Research and Legal Opinions) atau al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’. Sebuah lembaga resmi milik Arab Saudi. Khaled merasa risih terhadap fatwa-fatwa soal perempuan yang dikeluarkan oleh lembaga ini. Fatwa-fatwa lembaga tersebut ia nilai sangat diskriminatif terhadap perempuan.

Fatwa-fatwa yang dianggap Khaled sangat bersifat otoriter, bertendensi misoginis (membeci perempuan), menghina dan merendahkan harkat martabat perempuan, antara lain sebagai berikut.

Pertama, CLRO mengatakan bahwa perempuan adalah pembawa sial. Karena hal itu didukung hadis, “Pembawa sial ada pada tiga hal; perempuan, rumah, dan kuda.” Dikabarkan bahwa perempuan dan binatang adalah pembawa sial dan pertanda kejahatan, atas izin Tuhan. Hal itu merupakan bentuk keburukan yang yang telah menjadi takdir dan bersifat kekal. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika laki-laki meninggalkan rumah yang tidak cocok baginya, menceraikan istrinya, dan mengabaikan kuda yang mandul.

Kedua, CLRO menyebutkan bahwa “Tidak diragukan lagi bahwa Islam datang untuk memuliakan dan melindungi perempuan, menjamin hak-hak mereka, mengangkat derajat mereka, dan menjaga mereka dari kebuasan nafsu manusia. Tuhan memerintahkan perempuan untuk tinggal di rumahnya. Kehadiran mereka di ruang publik merupakan salah satu faktor penting yang bertanggung jawab atas tersebarnya fitnah.

Baca juga:  Ihwal Kewalian K.H. Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dari

CLRO mengatakan bahwa memang benar bahwa syariah mengizinkan perempuan meninggalkan rumah ketika ada keperluan, asalkan mereka mengenakan hijab dan menghindari semua hal yang dapat menimbulkan kecurigaan. Namun, ketentuan umumnya adalah bahwa perempuan harus tinggal di rumah. Hal tersebut lebih baik bagi mereka, lebih layak dan lebih menjauhkan fitnah. Oleh karena itu, Tuhan melarang perempuan menampakkan diri mereka di ruang publik sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyyah (masa sebelum Islam datang).

Ketiga, CLRO menekankan bahwa seruan secara langsung atau tidak langsung kepada perempuan untuk bekerja satu tempat dengan laki-laki atas nama kebutuhan modern dan keperluan masyarakat, yang menyebabkan terjadinya pembauran (dengan lawan jenis), merupakan permasalahan yang mengkhawatirkan, melahirkan situasi yang berbahaya, konsekuensi yang parah, dan dampak-dampak susulan yang merusak.  Ketika seorang perempuan meninggalkan rumah, yang sebenarnya merupakan tempat tinggalnya dan tempat kekebasannya di dunia yang fana ini, ia berarti telah menentang kecenderungan alami yang telah ditakdirkan Tuhan bagi perempuan. Dalam sebuah masyarakat Islam, seruan kepada perempuan untuk bekerja satu tempat dengan laki-laki merupakan sebuah persoalan yang sangat serius dan pembauran lawan jenis merupakan hal yang berpotensi menimbulkan bahaya (Khaled: 414).

Menuju Fikih Otoritatif

Lahirnya fatwa-fatwa CLRO semacam itu, bagi Khaled, disebabkan karena lembaga tersebut mengabaikan bukti-bukti yang lain (yang berbeda). Akibatnya, mereka menghasilkan kesimpulan yang dangkal, ceroboh, dan bahkan penuh dengan ketidakjujuran. Khaled secara jauh bahkan melihat, tidak ada kesepaduan, dalam metode dan pendekatan yang berlandaskan prinsip moral serta yurisprudensi di dalamnya. Karenanya, untuk melawan sikap otoriter tersebut, Khaled menghadirkan gagasan fikih otoritatif.

Khaled memberikan lima prasyarat yang harus dimiliki oleh para ahli hukum agar produk hukum yang dilahirkan bersifat otoritatif. Pertama, kejujuran. Mereka yang dilimpahkan hak untuk membahas masalah hukum tidak boleh berpura-pura tahu terhadap sebuah persoalan. Ia harus jujur pada hal-hal yang ia tidak ketahui. Jangan sekali-kali menampilkan seakan-akan diri tahu segalanya. Kemudian berterus terang tentang sejauh mana ilmu dan kemampuannya dalam memahami perintah Tuhan.

Baca juga:  Khaled Abou El Fadl, Pemikir Islam yang Dahulunya Seorang Fundamentalis (1)

Kedua, adanya kesungguhan. Khaled mengharapkan agar sebelum ahli hukum membuat fatwa, terlebih dahulu harus mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan dan memahami petunjuk-petunjuk yang ada. Terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak orang lain. Ia harus hati-hati dan tidak ceroboh dalam membuat kesimpulan.

Ketiga, menerapkan prinsip kemenyeluruhan. Seorang ahli hukum dituntut untuk melakukan penyelidikan terhadap seluruh perintah Tuhan yang ada, mencari yang relevan dan berkaitan. Pokoknya, seorang ahli hukum harus senantiasa berupaya untuk menemukan perintah Tuhan yang lain yang juga relevan jika ada sehingga kesimpulan hukum yang dibuatnya betul-betul komperehensif dan kaya perspektif.

Keempat, menerapkan prinsip rasionalitas. Segala penafsiran dan produk fatwa harus bertumpu pada rasionalitas. Khaled mengharapkan agar para ahli hukum mampu menafsirkan perintah-perintah Tuhan secara rasional. Karena suatu keputusan hukum yang didasarkan pada rasionalitas akan dipandang benar secara umum.

Kelima, pengendalian diri. Seorang ahli hukum harus senantiasa rendah hati dan mengendalikan dirinya dalam menafsirkan pesan-pesan Tuhan. Jangan sampai karena terlalu menggebu dalam menafsirkan pesan Tuhan, ia menjadi lupa akan perannya yang hanya seorang penafsir dan mengambaikan peran Tuhan sebagai pembuat teks, yang tentunya lebih memahami makna yang dikehendakinya (Khaled: 100-103).

Comment

Artikel Lainnya