by

Konsep Transportasi dalam Al-Qur’an: Makna Ḍāmir dan Urgensi Manajerial Sistemik

Islam Detik – Transportasi adalah bagian penting peradaban. Dalam membangun tamadun Islam, penggalian konsep transportasi dalam perspektif din perlu dilakukan. Dalam Quran, terdapat sejumlah ayat yang berkaitan dengan transportasi, termasuk Surah Ḥajj/22: 27-29. Ayat itu merangkum aspek-beberapa aspek transportasi termasuk manajerial, ekonomi, seasonality, geografi, sosial, dan moral-spiritual. Tulisan ini mengelaborasikan rangkaian makna itu, lalu mendetailkan pembahasan setiap kata kunci.

Orientasi setiap muslim adalah Allah, sehingga setiap perjalanan hidupnya berkisar pada konsep tauhid Allah, yang diimajikan sebagai tawaf di sekitar “bayt al-ʿatīq”. Karena itu, mereka mudah menerima ajakan perjalanan menuju Dia dan selalu rindu akan Tanah Suci-Nya. Mereka bahkan mempromosikan ajakan itu (adzdzin) ke seluruh dunia. Dari berbagai sudut bumi dengan beragam kesulitan medan (fajj ʿamīq), mereka tetap akan berhaji, baik berjalan kaki, maupun menaiki transportasi, sekalipun dengan armada yang payah atau maskapai berbiaya murah (ḍāmir).

Hal itu karena ḍāmir mencakup makna hewan tunggangan (biasanya unta atau kuda) yang menjadi kurus, kendaraan bermotor yang kehabisan bahan bakar atau menurun performanya, maskapai transportasi atau kafilah yang merugi, low cost carrier, dan musafir yang kehabisan bekal. Dengan demikian, ḍāmir merujuk pada angkutan yang mengalami kepayahan akibat jauhnya perjalanan, termasuk kepayahan fisik, biologis, mekanis, dan finansial.

Sementara itu, jauhnya jarak dan sulitnya medan (fajj ʿamīq) membuat perjalanan haji maupun perjalanan lain menuntut diperhatikannya armada transportasi (fleet analysis), rute (route analysis), ongkos perjalanan (cost analysis), hingga waktu operasional kru maskapai (flight time analysis) agar tidak mengalami kepayahan atau kerugian (menjadi ḍāmir). Pengaturan jalur lalu lintas serta penyediaan infrastruktur pendukung perhubungan juga penting untuk mencegah “kepayahan perjalanan” tersebut dan meningkatkan keselamatan penumpang. Dengan demikian, transportasi mesti memenuhi aspek manajerial-sistemik multi-modal.

Selain itu, setiap jalur perjalanan yang ramai, termasuk rute haji itu, umumnya berhubungan dengan jalur perdagangan dan arus pengangkutan barang (manāfiʿ), bahkan sambil bersafar pun orang-orang boleh berniaga. Dengan geliat transportasi dan ekonomi itu, mereka patut bersyukur karena berkelimpahan laba di hari-hari tertentu (ayyām maʿlūmāt). Hal itu lantaran perjalanan orang dan barang, termasuk haji, memang mengandung sifat musiman (seasonality). Dengan begitu, pelaku jasa transportasi dan bisnis penyertanya mesti memperhatikan seasonality analysis, yield harga tiket, hingga persentase kelas layanan agar keuntungan di peak season mampu menutupi kerugian hari sepi.

Segenap pola manajemen sistemik dengan berbagai aspek itu tidak lain ditujukan demi keberlanjutan usaha transportasi tersebut, sehingga terjadi keuntungan buat pihak maskapai sekaligus tersedianya jasa angkutan yang terjangkau bagi para musafir dan pengirim barang. Untuk itu pula, diperlukanlah pengaturan permodalan yang baik, sehingga bisnis transportasi itu mampu memenuhi suatu konsep simpanan yang hidup dan berkembang (bahīmah al-anʿām), guna menjamin keberlangsungan usahanya, termasuk melakukan perawatan atau penambahan armada, penggajian karyawan, perluasan rute, dan sebagainya.

Semua keuntungan yang diperoleh pelaku jasa transportasi itu, sekaligus rembesan ekonomi bagi usaha-usaha di sekitarnya, merupakan karunia dari Allah berupa hidupnya perniagaan (manāfiʿ) yang mendatangkan rezeki yang dapat mereka makan. Oleh karena orientasi bagi kaum muslim sebelumnya, rezeki yang mereka makan itu pun menjadi tanggung jawab sosial untuk menyejahterakan masyarakat sekitar, terutama kaum fakir (fa-kulū minhā wa-aṭʿim bāis al-faqīr).

Dengan mengembalikan diri pada orientasi tauhid pula, segenap pelaku transportasi dan bisnis lain yang menyertainya serta para musafir dan jamaah haji, menutup siklus perjalanan itu dengan penyucian diri (il-yaqḍū tafatsahum) dan pembulatan tekad (il-yūfū nudzūrahum), saling membantu menyempurnakan manasik atau perjalanan suci mereka secara nyaman dan terjangkau. Akhirnya, semua kembali kepada Dia yang memiliki siklus itu (wal-yaṭṭawwafū bil-bayt al-ʿatīq).

Sekarang, analisis yang mengantarkan kepada elaborasi makna di atas mesti diberikan. Karena terbatasnya ruang, akan dibahas makna ḍāmir saja. Makna kata kunci lain akan dibentangkan di tulisan selanjutnya, insya-Allah. Kata ḍāmir berasal dari kata kerja ḍamara yang berarti menjadi kurus, berdaging ringan, meramping, mengecil di bagian perut, mengering, menyingkat, menekan, atau berkontraksi.

Kata itu berhubungan juga dengan ḍammara, yuḍammir, taḍmīr, dan iḍmara yang bertalian makna dengan perbuatan menyiapkan tunggangan yang ramping (sehingga kencang dan lincah) dalam suatu balapan atau ekspedisi militer; atau tindakan memberi makan dengan jumlah yang hampir tidak cukup sehingga yang diberi makan masih bisa bertahan, tetapi menjadi kurus setelah sebelumnya gemuk.

Kata iḍmara juga berkaitan dengan suatu metode perawatan hewan tunggangan dengan meletakkan beban di punggungnya agar dia berkeringat, sehingga kehilangan kelemahannya dan daging atau ototnya menjadi kokoh; kemudian menaikkan seorang anak atau pemuda ke punggungnya untuk membuatnya lari, di mana dengan melakukan itu, hewan itu tidak lagi dikhawatirkan akan kehilangan nafasnya saat bepergian atau tumbang saat lari cepat.

Kata iḍmara itu juga bertalian dengan tindakan memutuskan, membulatkan tekad, atau menyembunyikan sesuatu dalam hati, pikiran, simbol, atau kata ganti (ḍamīr). Maknanya juga terkait dengan menghilangnya seseorang karena bepergian ke tempat yang jauh atau karena kematian, seperti tergambar dalam frasa iḍmarahu al-bilād dan īdmaratahu al-arḍ (dia hilang ditelan bumi). Dengan begitu, kata iḍmara berarti pula menghilang, menjauh, atau menempuh perjalanan yang jauh (istaqṣā).

Suatu properti yang dipredikatkan dengan makna turunannya berarti hilang dan tak pernah kembali, yaitu berkaitan dengan kerugian atau kebangkrutan, seperti tertuang dalam frasa māl ḍimār. Hutang yang tak mampu dibayar, tak tentu periodenya, tertunda, atau penjualan di atas kredit di mana pembayarannya ditunda sampai batas tertentu disebut dayn ḍimār. Dengan begitu, kata itu berkaitan pula dengan suatu konsep kerugian ekonomi.

Jika dielaborasikan, akan diperoleh konsep bahwa ḍāmir mencakup hewan tunggangan yang menjadi kurus dan payah akibat jauhnya perjalanan, kendaraan bermotor yang kehabisan bahan bakar atau menurun performanya, low cost carrier, usaha transportasi yang merugi, kafilah dagang yang merugi, dan musafir yang kehabisan bekal sehingga kelanjutan perjalanannya menjadi tidak pasti. Makna kata kunci lain akan diuraikan pada tulisan berikutnya, insyaallah.

Sumber:

  1. Amrullah, Haji Abdul Malik Abdul Karim. 1982. Tafsir al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional.
  2. Lane, Edward William. 1863. Arabic-English Lexicon. London: Williams and Norgate.
  3. Lewis, William Mather. (September 1, 1936). “The Significance of Transportation to Civilization”, The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 187, Issue 1, P. 1-6
  4. Pasaribu, Hisar Manongam. 2008. Sistem Transportasi Udara: Diktat Kuliah AE 3241 Sistem Transportasi Udara. Bandung: Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung.

Comment