by

Mitos-mitos Kehamilan Menurut Syariah

Islam-detik.com – Masa kehamilan seyogianya menjadi saat-saat terindah bagi seorang perempuan, apalagi jika hal itu adalah kehamilan pertama. Akan tetapi, momen tersebut kadang malah mengundang kekhawatiran dan ketakutan. Terutama jika dikaitkan dengan banyaknya mitos di seputar kehamilan.

Mitos-mitos tersebut sering kali disimpulkan sebagai suatu kebenaran tanpa dicerna terlebih dahulu. Musababnya karena hal itu sering kali dibicarakan, didapat dari para orangtua, mertua, kerabat, tetangga, dan siapa saja.

Apa sajakah mitos-mitos kehamilan yang sering muncul dan kita dengar ditengah masyarakat, yang sering kali mengundang kontroversi itu? Bagaimana jawaban agama akan hal tersebut, terutama dimensi fikih dalam membahas mitos kehamilan tersebut?

Mitos-mitos kehamilan banyak sekali, di antaranya larangan berhubungan badan dengan suami, larangan menjahit dan menggunting selama masa hamil, larangan keluar rumah sore hari atau saat maghrib, larangan mandi di malam hari, larangan memelihara kucing, larangan membunuh binatang, menyebut “amit-amit” ketika menyaksikan hal yang tidak disukai, mantang mengonsumsi makan-makanan tertentu, meyakini bahwa bentuk tertentu kehamilan akan menentukan jenis kelamin si jabang bayi, dan masih banyak lagi mitos-mitos lainnya.

Jika dipilah dan dipilih, mitos-mitos di seputar kehamilan ada yang bersinggungan dengan ilmu kedokteran, dan tampaknya lebih banyak lagi yang berasal dari adat yang berkembang di suatu masyarakat tertentu di masing-masing daerah, yang umumnya tanpa dasar sama sekali dan sulit sekali dinalar menurut logika.

Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi kepercayaan Hitler sempat mengatakan: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.” Apa yang dimaksud oleh Jozef Goebbels dengan kegiatan menyebarkan kebohongan yang diulang-ulang itu adalah kerja propaganda. Dalam sebuah propaganda, alat yang sering digunakan untuk menyebarkan kebohongan adalah mitos, selain juga simbol dan retorika.

Mitos-mitos di seputar kehamilan dipandang dari sudut agama tidak semuanya benar. Sekalipun demikian, ada memang beberapa akhlak agama (marwah) yang harus dijadikan panduan bagi setiap muslimah ketika hamil.

Baca juga:  Pentingnya Mendengarkan, Hilangkanlah Kesedihannya

Sikap kehati-hatian wajar dikedepankan oleh muslimah yang hamil manakala hal tersebut menurut tinjauan medis juga dibenarkan. Katakanlah, mengonsumsi sop dan daging kambing harus dihindari. Sebab secara medis mengonsumsi makanan tersebut bisa saja berisiko terhadap janin, karena sifat kedua makanan tersebut yang panas.

Bagaimana dengan larangan bagi perempuan hamil, misalnya keluar rumah di sore hari (Magrib), membunuh binatang seperti kucing, dan sebagainya?

Terkait dengan hal itu, harus diketahui lebih jauh mengapa larangan-larangan tersebut ada. Jika alasannya sama sekali tidak dapat diterima secara ilmiah, tidak apa-apa menurut anjuran medis dan agama, tetapi tebih didasarkan pada hal-hal bersifat klenik yang tidak masuk akal, jelas hal itu hanya mitos yang tidak perlu diyakini kebenarannya. Sebab, meyakini hal itu sebagai suatu kebenaran dapat jatuh pada kesyirikan kepada Allah SWT, Zat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Kasus larangan keluar di waktu senja sebenarnya punya pijakan di dalam hadis Baginda Rasulullah Muhammad SAW Beliau bersabda: “Apabila hari telah senja, laranglah anak-anak keluar rumah, karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam maka biarkanlah mereka. Tutuplah pintu dan sebut nama Allah, karena setan tak dapat membuka pintu yang tertutup (dengan menyebut nama Allah). Tutup semua kendi kalian dengan menyebut nama Allah, dan tutuplah bejana kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun dengan membentangkan sesuatu di atasnya, dan padamkan lentera kalian (ketika hendak tidur).” (H.R. Imam Bukhari)

Jika memperhatikan hadis tersebut, sejatinya larangan tidak hanya berlaku untuk anak-anak kecil yang memang rentan terkena gangguan secara metafisik (gaib). Orang dewasa pun yang ksoong dari bacaan zikir dan alpa menyebut nama Allah SWT bisa saja mendapat gangguan setan. Agaknya berangkat dari sini larangan untuk perempuan hamil keluar rumah di waktu senja.

Baca juga:  Kapan Sebaiknya Pasangan Suami Istri Bercinta? [Bagian 1]

Selain itu, menurut analisis kesehatan, waktu antara Maghrib dan Isya cukup erat kaitannya dengan penurunan kinerja jantung yang berpengaruh terhadap otak, otot, dan tulang. Tidak maksimalnya kinerja jantung bisa saja membuat orang rentan terkena penyakit rematik (rheumatoid arthritis) atau nyeri tulang (osteoarthrosis).

Ada pula yang berpendapat bahwa spektrum warna merah pada saat senja mendekati frekuensi wujud jin dan iblis (infra-red), yang artinya pada saat-saat seperti itu mereka amat powerfull karena beresonansi dengan alam. Sehingga orang dianjurkan untuk lebih banyak di dalam ruangan. Makanya tidaklah mengherankan jika Baginda Rasulullah Muhammad SAW pernah menganjurkan agar zikir-zikir setelah shalat Maghrib dipanjangkan hingga datangnya waktu Isya, dan melakukan i’tikaf, serta berdoa selama waktu-waktu tersebut juga dianjurkan.

Sementara membunuh binatang, semisal kucing, bahkan selain perempuan hamil pun tidak dibenarkan untuk melakukannya. Hadis-hadis dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW sudah sangat jelas memberi petunjuk binatang-binatang apa saja yang boleh dibunuh, yang umumnya adalah binatang berbahaya seperti ular, atau merugikan seperti tikus. Karena itu, larangan untuk tidak membunuh kucing harus ditaati, sebagaimana pula ditaati oleh selain perempuan hamil, tanpa harus meyakini bahwa jika melakukannya akan membawa malapetaka kepada si jabang bayi.

Comment

Artikel Lainnya