by

Mustajabnya Sumpah Orangtua kepada Anaknya

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

Islam-detik.com – Seorang bocah suka bermain pasir. Suatu ketika ia dengan semringah menggenggam pasir dan berlari riang ke dalam rumah. Sang ibu tengah sibuk menata makanan sebab sang suami akan mengadakan jamuan makan. Melihat piring-piring terhidang berisi makanan, bocah itu dengan semangat menaburkan pasir dari tangannya ke piring-piring itu. Demikian kesenangan anak kecil yang tak tahu apa-apa. Si ibu kaget tapi tak mampu mencegah. Ia marah lalu dengan keras berseru kepada sang buah hati.

“Kamu…pergi main keluar! Semoga kamu kelak menjadi imam dua masjid Tanah Haram!”

Setelah dewasa, bocah itu dikenal bernama Abdul Rahman As-Sudais. Ya benar, ia adalah imam Masjidil Haram di Makkah. Sumpah sang ibu kepadanya yang dilontarkan dalam keadaan marah sewaktu ia kecil telah dikabulkan Allah SWT.

Kisah masyhur itu sering disampaikan orang jika bercerita tentang Imam As-Sudais. Kita bisa melihat betapa istimewa dan bertuahnya lidah sang ibu. Istimewa karena jika ibu-ibu lain menyumpahi anak dengan perkataan yang buruk saat marah, ibunda Imam As-Sudais justru lebih senang “menyumpahi” anaknya dengan harapan akan kebaikan.

Betapa mustajabnya sumpah orangtua kepada anaknya. Sumpah itu bertuah karena sejatinya setiap perkataan orangtua ke anaknya adalah doa. Baik perkataan itu baik atau buruk. Wajar jika Nabi SAW sendiri pernah mengingatkan agar kita tidak berdoa dengan hal-hal yang buruk.

Dari Abu Hurayrah RA, ia berkata, “Nabi SAW bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

‘Ada tiga macam doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi (pasti dikabulkan), yaitu doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir, dan doa yang buruk dari kedua orangtua kepada anaknya.’” (H.R. Abu Dawud, nomor 1536)

Baca juga:  Doa Pernikahan, Doa Terindah dalam Hidup

Dari Jabir bin ‘Abdillah Al-Anshari, ia berkata, “Nabi SAW bersabda:

شَأْ لَعَنَكَ اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– « مَنْ هَذَا اللاَّعِنُ بَعِيرَهُ » قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « انْزِلْ عَنْهُ فَلاَ تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

‘(Seorang laki-laki menghardik untanya), ‘Hus (agar untanya berjalan cepat, red.), semoga Allah melaknatmu.’ Rasulullah SAW bertanya, ‘Siapa yang melaknat untanya?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Turunlah (dan turunkan barang-barangmu dari unta itu). Janganlah kamu menaiki unta yang kamu laknat. Janganlah kamu menyumpahi keburukan kepada dirimu sendiri. Janganlah kamu menyumpahi keburukan kepada anak-anakmu. Jangalah kamu menyumpahi keburukan pada harta-hartamu. Semoga (sumpah tersebut) tidak bertepatan dengan saat-saat ketika Allah memberi dan mengabulkan doa dan permintaan kalian’.” (H.R. Muslim, nomor 3009)

Mendoakan Anak dengan yang Baik-baik

Selalu mendoakan anak yang baik-baik dan berusaha berkata baik merupakan kebajikan tinggi yang harus dipahami dan dipraktikkan setiap orangtua, walaupun dalam keadaan marah yang bagaimana pun. Lidah orangtua selalu tak sederhana bagi anaknya. Betapa mustajabnya sumpah orangtua kepada anaknya.

Jika orangtua berkata buruk, berdoa buruk, atau menyumpahi yang buruk, dan saat itu bertepatan dengan kabulnya doa, maka bisa dibayangkan keburukan macam apa yang akan diterima anak saat mereka besar nanti?

Tentu semua orangtua tak menginginkannya dan saat orangtua menyadari keburukan yang diraih anaknya terkait perkataannya itu maka si orangtua akan mengalami penyesalan panjang yang mendalam.

Imam Al-Ghazali menyebut orangtua adalah faktor terpenting bagi pertumbuhan jiwa anak. “Hati anak seperti permata yang belum dipahat,” kata sang Imam.

Orangtualah yang memahatnya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan  dan itu sumber kebahagiaan orangtua. Tapi  jika dibiasakan  kejelekan  dan  dibiarkan  sebagai  mana  binatang ternak,  niscaya  akan  menjadi  jahat  dan  binasa.  Buruknya perangai anak karena buruknya pengajaran dan perkataan orangtua akan menjadi dosa yang ditanggung orangtuanya.

Baca juga:  Takbiran, Ungkapan Kerinduan Hamba kepada Tuhannya

Berkata dan menyumpah buruk merupakan kesalahan asuh yang banyak terjadi pada orangtua. Padahal, setiap orangtua pastilah menginginkan perkataan baik dari anaknya. Pastilah juga setiap orangtua akan mengajarkan hal itu kepada anak-anak mereka. Janganlah pengajaran itu dibuat percuma jika orangtua sendiri tak bisa mengontrol dirinya saat marah hingga mengeluarkan kata kasar dan sumpah serapah pada anaknya sendiri.

Bagaimana si anak akan berlembut-lembut perkataannya ketika orangtua sudah renta dan mengalami banyak kepayahan, jika selagi muda, orangtua membombardir telinga anaknya di waktu kecil dengan perkataan buruk?

Sering kali orangtua tidak sanggup menahan emosi karena menganggap anaknya nakal, bandel, dan mengesalkan. Tetapi berusahalah sedapat mungkin dalam situasi itu tak sepatah kata pun keburukan terucap kepada anak. Sebaliknya, nasihati anak dengan baik, dan di setiap saat selesai menegrjakan shalat, doakanlah mereka.

Setiap usaha adalah ikhtiar. Selebihnya, patutlah setiap orangtua bertawakal dengan berdoa. Allah berfirman: “Sesungguhnya  kamu  tidak  akan  dapat  memberi  petunjuk kepada  orang  yang  kamu  kasihi,  tetapi  Allah  memberi petunjuk  kepada  orang  yang  dikehendaki-Nya.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 56)

Comment

Artikel Lainnya