by

Nabi Muhammad; Nabi Abad ini bagi Kaum Muslim dan Barat

Islam Detik – Bulan April lalu, saya membaca Muhammad: Prophet for Our Time. Buku ini adalah seri lanjutan karya Karen Armstrong sebelumnya, Muhammad; A Biography of the Prophet. Kedua buku tersebut lahir dengan latar belakang berbeda. Muhammad; A Biography of the Prophet ditulisnya tahun 1991, yang dapat dikatakan sebagai salah satu usaha sarjana Barat (baca: Kristen, ed.) dalam memberikan penjelasan yang objektif dan komprehensif terhadap sosok Nabi Agung umat Islam ini. Sementara itu, Muhammad: Prophet for Our Time ditulis setelah kejadian 11 September 2001, yang hadir untuk merespons media Barat yang mulai rajin mengidentifikasi Islam dengan aksi-aksi terorisme.

Buku biografi Nabi yang ditulis Karen seperti ingin meneruskan pemikiran bahwa agama masih relevan, bahkan menjadi solusi sekarang ini. Saya juga dapat melihat perspektif lain ketika membaca biografi Nabi yang ditulis kalangan non-Muslim. Latar belakang Karen yang pernah tujuh tahun menjadi biarawati Katolik Roma, tentu cukup memberikan sudut pandang Kristen atau pun Yahudi terhadap Islam. Tak jarang, saya berhenti membaca untuk mengecek beberapa ayat dalam Alkitab yang ia kutip.

Tidak seperti tulisan-tulisan karya Barat abad pertengahan yang cenderung punya sudut negatif, tidak sesuai fakta, bahkan fitnah yang keji terhadap sosok Nabi, justru Karen menulis biografi Nabi dengan objektif. Ia banyak mengambil rujukan dari penulis biografi Nabi pertama seperti Ibnu Ishaq (w. 767) dan referensi lain yang diakui mayoritas Muslim di seluruh dunia.

Pada bagian penutup Bab Salam, Karen mengutip sarjana Kanada, Wilfred Cantwell Smith (1957) yang menekankan perlunya bukan hanya saling toleransi, tetapi apresiasi di antara dunia Islam dan Barat. Ia mengatakan bahwa nilai-nilai kebaikan yang ada dalam Islam juga dimiliki oleh Barat, karena nilai-nilai tersebut tumbuh dari tradisi yang sama. Jika Muslim ingin menjawab tantangan zaman, mereka harus mengerti tradisi dan institusi Barat, karena keduanya tidak akan pernah lenyap. Jika tidak begitu, mereka akan gagal mengahadapi tantangan zaman.

Karen juga mengkritik keras Barat atas ketidakmampuannya mengakui bahwa mereka berbagi planet yang sama bukan dengan orang-orang yang lebih rendah, tetapi dengan orang-orang yang setara. Kritik ini sangat relevan. Introspeksi ini bukan hanya bagi kalangan Barat, tetapi juga bagi kaum Muslim. Saya banyak menemui kawan-kawan yang selalu menganggap orang-orang non-Muslim sebagai orang-orang yang tidak jujur, tidak adil, atau sematan buruk lainnya. Pandangan ini menunjukkan kedangkalan pemikiran yang tidak membawa ke mana pun. Karena sejatinya, mengulang Smith, kaum Muslim juga berbagi planet yang sama dengan orang-orang non-Muslim, yang juga setara.

Baca juga:  Seperti Apa Hidup yang Berarti itu?

Pada kenyataannya, banyak peneliti Islam dari kalangan non-Muslim seperti Karen yang mampu objektif dan jujur. Merujuk akarnya, Islam memang dekat dengan Yahudi secara teologi, tetapi tidak dalam segi politik, terutama sekarang ini. Sebaliknya, Islam sangat jauh dengan Nasrani dari segi teologi, tetapi dekat secara politik. Rabi dan reformis Abraham Geiger menyatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang penipu. Hal ini diamini oleh Gustav Weil, orientalis Jerman penganut Yahudi, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah penipu, tetapi pembaru yang tulus. Sebagaimana Geiger dan banyak penulis abad kedelapan belas, Weil memandang Nabi Muhammad sebagai pembaru monoteisme asli yang tidak ternoda dari patriarki Nabi Ibrahim. Dalam catatan Weil, Islam adalah versi murni dari Yudaisme dan Kristen: “A Judaism without the many ritual and ceremonial laws, which, according to Muhammad’s declaration, even Christ had been called to abolish, or a Christianity without the Trinity, crucifixion, and salvation.”

Beberapa kawan Muslim yang saya temui, tidak jarang takut, atau dapat dikatakan enggan, membaca hal-hal tentang agama lain. Barangkali ada kekhawatiran akan terpengaruh, atau terkurung pada anggapan tiadanya kebenaran selain yang mereka meyakininya. Sikap ignorance semacam ini tidak jarang membawa pada ekstremisme, atau paling kurang fundamentalisme agama. Padahal Islam adalah jalan tengah, agama yang selalu memberikan solusi. Saya ingat apa yang selalu diulang-ulang oleh Gus Baha dalam pengajiannya bahwa Al Quran mengajak untuk berdialog dan berlogika kepada kaum yang menentangnya. Sejarah mencatat bagaimana perjanjian Hudaibiyah yang saat itu isinya dianggap oleh beberapa sahabat akan merugikan Islam, ternyata malah menguntungkan Islam. Karen dan banyak peneliti Islam menganggap ketenangan Nabi Muhammad dalam menghadapi peristiwa yang sungguh menegangkan tersebut merupakan bukti akan kegeniusan profetik beliau. Berikut kutipan Karen yang mengutip Ibnu Ishaq di halaman 207-208.

Pada kenyataannya, perang terus berlanjut, tetapi para penulis sejarah Nabi sepakat bahwa Hudaibiyyah merupakan garis pembeda.”Belum pernah ada kemenangan (fat) yang lebih besar daripada ini sebelumnya,” tegas Ibnu Ishaq. Akar makna dari FTH (fat, ed.) adalah “pembukaan”; gencatan senjata itu tampak tidak menjanjikan pada awalnya, tetapi itu membukakan pintu-pintu baru bagi Islam. Hingga saat itu, tak seorang pun dapat duduk untuk mendiskusikan agama baru tersebut dalam cara yang rasional, karena pertempuran yang tak hentinya dan kebencian yang terus memuncak. Tetapi kini, “ketika ada perjanjian damai dan orang-orang berjumpa dalam keadaan aman dan berkumpul bersama, setiap orang yang membincangkan tentang Islam secara cerdas beralih memeluknya.” Bahkan, antara tahun 628-630, “jumlah orang yang masuk Islam berlipat dua atau lebih dari berlipat dua.”

Kalangan Muslim, kecuali yang terpelajar, sangat tidak peka dengan fakta tersebut. Pada setiap keyakinan selalu ada egoisme akut yang hanya menginginkan orang lain memahami keyakinannya, tetapi tidak sebaliknya. Orang-orang yang bersikap tidak peduli, menutup diri, berburuk sangka, menganggap keyakinan lain adalah keyakinan kotor sehingga tidak perlu diketahui tentu selalu ada dalam pemeluk setiap agama, dan hal ini membuat dialog yang santun dan adil semakin sulit terjadi.

Pada bulan Ramadhan, waktu yang baik untuk merenung saat ini, seyogianya kita dapat menengok ke dalam diri masing-masing, sudahkah kita berlaku adil kepada orang lain, bahkan yang mungkin tidak kita suka? Sudahkah kita memiliki kerendahan hati untuk menerima kebenaran dan hikmah dari siapa pun, bahkan dari orang yang tidak seiman?

Pada paragraf akhir penutup bukunya, Karen menyimpulkan bahwa baik Islam dan Barat saat ini masih belum dapat saling menghargai. Bahkan dengan rendah hati, ia mengakui bahwa Nabi adalah sosok yang tepat untuk dunia Barat dan Islam agar dapat saling mengapresiasi. Ia mengusulkan, jika kita ingin menghindari kehancuran dan mewujudkan kehidupan yang toleran dan saling mengapresiasi, mulailah dari mengenal sosok Nabi Muhammad: “Seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada “Islam”, yang berarti perdamaian dan kerukunan.”

Penutup dari Karen mengusik saya, karena itu berarti mengatakan secara tersirat bahwa banyak Muslim yang tidak memahami visi kenabian Nabi Muhammad ṣallalāhu ‘alaihi wa sallam.

Allāhumma ṣalli ‘ala Muḥammad wa ‘ala ālihi wa ṣaḥbihi ajma’īn.

Wallāhu a’lam biawāb.

Comment

Artikel Lainnya