by

Pentingnya Mendengarkan, Hilangkanlah Kesedihannya

Islam Detik – Depresi yang dialami oleh seorang ibu yang berimbas pada anak-anaknya, mengingatkan pada tante saya. Tante yang merawat saya sejak kecil, menyimpan semua masalahnya sendiri dan kemudian meledak dalam bentuk diagnosis skizoprenia. Dulu saya tidak tahu persis apa itu skizroprenia, memandang tante saya sebagai orang normal dan berusaha menyadarkannya untuk berpikir normal. Perjuangan panjang dan melelahkan ini tanpa hasil.

Hingga suatu saat, ia mendatangi saya meminta maaf karena sering menyakiti saya. Permintaan maaf ini lebih intens di akhir hidupnya.

Saat mendatangi saya, ia bercerita bahwa kata dokter, ia ibarat gelas pecah. Kalaupun disambung lagi, tetap tidak akan sempurna. Dengan kata lain salah satu syaraf di otaknya mengalami korslet. Sehingga kalau ia banyak pikiran, maka ia akan hilang kesadaran. Hampir sekali dalam setahun ia menginap 1-5 bulan di rumah sakit jiwa. Karena kurang teredukasinya kami dan tetangga sekitar yang kerap menyinggung perasaannya dan melayaninya ketika bertengkar.

Tante saya mengidap skizofrenia karena menyimpan semua lukanya sendirian. Tak bercerita pada siapa pun, baik keluarga maupun teman-temannya. Kepada keluarga, ia ingin menjaga perasaan mereka dan tidak ingin menambah beban mereka. Kepada teman, ia tidak ingin mengumbar aib. Sampai kemudian hatinya tak kuat lagi dan lepas kontrol. Kesedihan yang dipendamnya bertahun-tahun harus dibayar dengan mentalnya yang tak lagi sehat. Semenjak saat itu, sampai akhir hayatnya, ia adalah pelanggan rumah sakit jiwa.

Kisahnya Tante, menyadarkan saya betapa pentingnya kehadiran seseorang untuk sekadar mendengarkan. Sekadar melepaskan energi negatif. Sekadar mengembalikan seseorang kepada kesadaran, kestabilan emosi, dan keseimbangan hidup: bahwa hidup itu indah, bahwa bukan saja ia yang diuji.

Baca juga:  Anak Dermawan Impian Orangtua

Mendengarkan terasa ringan, tetapi sesungguhnya sulit untuk dilakukan. Terlebih mendengar dengan hadir sepenuhnya. Tak hanya telinga, tapi juga hati sehingga dapat memberi nasihat tanpa penghakiman. Seperti yang selama ini kerap tak kita sadari.

Bagi saya ketika kita tidak mampu menangani masalah kita sendiri, bercerita dengan orang yang tepat saat memiliki masalah berat adalah bagian atau ikhtiar kita mencari obat. Obat untuk sekadar melepaskan beban yang membuat dada terasa sesak. Tentu saja semua itu disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam, bercerita dengan kukuh menyimpan identitas orang yang diceritakan. Untuk tetap menjaga harga dirinya.

Jadi bila teman, sahabat, atau kerabatmu datang untuk melepaskan bebannya, dengarkanlah. Hiburlah dan sampaikanlah kabar gembira. Jangan sampai ia memendam masalah sendirian, kemudian meledak dan menjadi gangguan mental.

Itulah pentingnya mendengarkan. Dengarkanlah, karena suatu hari mungkin kita yang memerlukan itu semua. Hilangkanlah kesedihannya. Saya percaya bahwa saat kita menghilangkan kesedihan orang lain, kelak Allah akan menghilangkan kesedihan kita juga.

Comment

Artikel Lainnya