by

Ramai-ramai Menghapus Tato

Islam Detik – Seorang ibu mengaku mempunyai seorang suami yang barangkali diidam-idamkan oleh perempuan mana pun karena sangat perhatian dan sopan tidak saja kepada dirinya, tetapi juga kepada saudara-saudaranya. Namun sayang, setiap kali diajak mengerjakan shalat 5 waktu, sang suami tidak pernah mau dan hanya  diam. Belakangan baru ketahuan penyebab sang suami enggan shalat, yakni lantaran ia sempat mendengar seorang ustaz yang mengatakan bahwa shalat orang yang bertato tidak sah menurut kacamata hukum Islam.

Apa alasan orang ramai-ramai menghapus tato? Alasan pertama karena tato (al-wasym) adalah suatu hal yang diharamkan di dalam hukum Islam. Keharaman ini bertolak dari fakta bahwa tato adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mengubah warna pigmen dalam lapisan kulitnya menggunakan tinta. Tindakan mengubah ciptaan asal ini amat dikecam karena merupakan bagian dari tipu daya setan, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an, surah An-Nisa [4], ayat ke-119, Allah SWT.

Apa alasan orang ramai-ramai menghapus tato? Alasan kedua karena adanya laknat dari Baginda Rasulullah Muhammad Saw. terhadap tato. Baginda Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambutnya, melakukan tato di wajahnya (mutawasshimah), menghilangkan rambut dari wajahnya, menyambung giginya, demi kecantikan, mereka telah mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari)

Imam Adz-Dzahabi menyatakan bahwa setiap adanya kata-kata laknat dari Baginda Rasulullah Muhammad Saw., baik terkait dengan sanksi di dunia dan ancaman akhirat, maka hal itu mengindikasikan kegiatan yang dilaknat  tersebut termasuk perbuatan dosa besar. Jika perbuatan tersebut hanya tergolong dosa kecil atau makruh, maka tentulah Baginda Rasulullah Muhammad Saw. tidak melaknatnya, tetapi cukup dengan melarangnya saja.

Selain itu, sekalipun dalam redaksi hadis tersebut yang dilaknat hanyalah perempuan bertato, namun hal itu juga mencakup laki-laki yang bertato. Hal ini berbeda jauh dengan larangan memakai perhiasan emas yang hanya berlaku bagi laki-laki, namun tidak bagi perempuan. Dalam hadis larangan memakai emas, secara khusus dikatakan bahwa Baginda Rasulullah Muhammad Saw. melarang pemakaian logam mulia tersebut “bagi laki-laki dari umatku”. Dengan penyebutan spesifik “bagi laki-laki dari umatku”, maka kaum perempuan tidak terkena larangan memakai emas.

Laknat terhadap tato dalam hadis di atas disejajarkan dengan perbuatan menyambung rambut (hair extension), menghilangkan bulu di wajah, dan menyambung gigi, yang kesemuanya dimaksudkan untuk tujuan mempercantik diri. Tujuan mempercantik diri di sini tentu saja yang diniatkan untuk selain suami dan atau yang terhitung sebagai tindakan mengubah ciptaan Allah SWT yang asal, sebagaimana dimaksud di dalam Al-Qur’an surah An-Nisa [4], ayat ke-119.

Perlu digarisbawahi, sebagian ulama masih membolehkan perubahan ciptaan jika hal itu bertujuan untuk mengembalikan dan memperbaiki ke bentuk dan fungsi semula setelah adanya cacat atau aib yang didapat sejak lahir maupun yang terjadi terkemudian.

Baca juga:  Keutamaan Puasa Hari Arafah

Apa alasan orang ramai-ramai menghapus tato? Alasan ketiga karena tato dianggap sebagai bentuk kemubaziran yang tidak ada manfaatnya sama sekali sehingga diharamkan. Sudah menjadi maklum bahwa setiap kemubaziran adalah perbutaan yang amat disenangi setan. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa mentato tubuh diharamkan karena hal itu identik dengan perbuatan buruk yang menyerupai (tasyabuh) apa yang dilakukan orang-orang kafir. Padahal ada hadis dari Baginda Rasulullah Muhammad Saw. yang menyatakan bahwa “barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.”

Tato dan Ibadah

Sudah jelas bahwa Islam sama sekali tidak mentolelir tato. Namun bagaimana jika seseorang sudah terlanjur mempunyai tato ketika ia belum mengetahui hukumnya, bagaimana status shalat yang dilakukannya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa tato dihukumi najis, karena terbentuk dari percampuran pigmen darah yang mengering dengan tinta. Sebagaimana diketahui, darah merupakan termasuk benda najis. Sedangkan dalam beribadah seseorang harus suci dari najis. Sehingga orang yang mempunyai tato menurut pendapat ini membawa najis saat beribadah, baik ketika shalat maupun tawaf yang mensyaratkan suci dari najis, baik tempat, pakaian, dan badan. Tidaklah mengherankan apabila ada pendapat ulama yang mengatakan bahwa shalat orang yang bertato tidak sah, lantaran orang yang bertato dianggap  tidak suci dari najis pada badannya.

Namun ulama lainnya menyatakan bahwa percampuran pigmen tinta dengan darah yang terjadi di bawah jaringan kulit tidak membuat seseorang membawa najis dalam tubuh. Sehingga menurut pendapat ulama dalam kelompok ini, shalat seseorang yang bertato tetap sah. Adapun tato yang dimiliki seseorang menjadi masalah lain yang terkait dengan larangan tato itu sendiri.

Umumnya para ulama kontemporer juga menyangsikan pendapat ulama terdahulu yang menganggap tato dapat menghalangi air ke kulit. Jika benar tato menghalangi air ke kulit, maka wudhu dan mandi junub orang bertato menjadi tidak sah, sehingga ia berada dalam keadaan mempunyai hadas terus-menerus. Faktanya tato permanen tidak menghalangi air sampai ke kulit, sehingga wudhu dan mandi junub orang yang bertato tetap sah. Berbeda dengan tato temporer atau “gambar tempel” yang sering dipakai anak-anak karena seperti karet atau lem yang kedap air.

Terlepas dari perbedaan titik pijak dalam melihat tato, semua ulama sepakat bahwa orang yang mempunyai tato harus menghilangkannya, jika memang memungkinkan. Ulama yang menyatakan bahwa tato membentuk najis dalam tubuh, seperti kebanyakan ulama mazhab Syafi’i semisal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany, mengatakan di dalam Fath Al-Bari bahwa menghilangkan tato bukumnya wajib. Jika hal itu bisa ditempuh dengan pengobatan (‘ilaj), maka tindakan ini menjadi wajib.

Bahkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany juga mengizinkan menghilangkan tato dengan cara melukai tubuh. Akan tetapi, beliau memberi catatan bahwa jika upaya tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan kematian, cacat, aib, atau kehilangan manfaat dari anggota badan, maka tato yang ada boleh dibiarkan saja. Selanjutnya, pelakunya bertobat agar perbuatannya mentato tubuh diampuni oleh Allah SWT.

Baca juga:  Bagaimana Khatam Al-Qur’an Berkali-kali selama Ramadan?

Ulama yang menganggap bahwa pigmen tinta yang bercampur dengan darah bukanlah najis juga mengharuskan orang yang bertato untuk menghilangkan tatonya, semampunya, dan tidak harus melukai tubuh apalagi mengarah pada hal-hal yang membahayakan jiwa. Hal ini mengikuti kaidah fikih yang menyakan bahwa “jika terdapat dua hal yang mudarat, maka pilihlah yang paling ringan dari keduanya.”

Menghapus Tato

Apa alasan orang ramai-ramai menghapus tato? Dewasa ini banyak teknik yang dapat dilakukan untuk menghapus tato, di antaranya menggunakan teknologi laser. Setiap orang dapat menempuh teknik yang ada untuk menghilangkan tatonya sebagai bentuk pertobatan nasuha. Jika memungkinkan, semua teknik dapat dilakukan. Sekali lagi jika memungkinkan baik dari segi biaya dan pelaksanannya.

Teknik lama seperti dermabrasi, yaitu menggosok kulit dengan benda sejenis amplas atau butiran pasir hingga lapisan terluarnya terkelupas mungkin tidak perlu lagi dilakukan. Demikian pula dengan teknik mengiris kulit yang berisiko pada terbentuknya jaringan parut  yang membekas sepanjang hidup.

Kini dapat memilih teknik cryotherapy, yang menggunakan nitrogen cair untuk menghilangkan tato, atau bisa juga menggunakan krim antitato. Masih ada teknik lain, yaitu teknik laser yang dianggap paling efektif untuk menghilangkan tato. Teknik ini juga dianggap paling aman bagi kulit. Sayangnya, teknik ini tidak murah, sehingga tidak semua orang mampu melakukannya. Kenyataan ini tidak perlu membuat resah, Allah SWT tentulah yang paling mengetahui akan kesanggupan hamba-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Beberapa Fakta Terkait Tato
  1. Sebanyak 14% (45 juta) warga AS mempunyai tato, dengan nilai belanja sekitar 1,65 miliar dollar per tahun.
  2. Sebanyak 30% orang yang mentato tubuhnya menyesal di kemudian hari dan ingin menghapus tatonya. Terbukti mencegah lebih baik daripada mengobati.
  3. Tato dapat menyebabkan infeksi (HIV-AIDS, hepatitis) dari orang ke orang akibat jarum rajah yang tak steril.
  4. Tato juga dapat menyebabkan alergi pada sebagian orang karena pigmen tato dianggap material asing oleh tubuh.
  5. Tato dapat menyebabkan komplikasi pada orang yang menjalani MRI (magnetic resonance imaging). Jika mempunyai tato, maka sebaiknya beri tahu radiolog sebelum menjalani MRI.
  6. Pesepakbola terkenal umumnya mempunyai tato. Sebagai pengecualian adalah Cristiano Ronaldo, yang bisa dibilang sebagai satu-satunya pemain terbaik dunia dan termahal saat ini yang tidak mempunyai tato. Kebiasaannya mendonor darah jadi alasan utama yang menghalanginya merajah tubuh.

Comment

Artikel Lainnya