by

Stop Mengobral Masalah Ranjang

Islam-detik.com “Waduh, pagi-pagi ceria abis, pasti joss banget nih semalam!” Dihujam kalimat seperti ini kaum Adam, begitu pula kaum Hawa, sering kali merasa tak tahan untuk diam, dan tanpa sadar nyerocos bla..bla..bla…menceritakan apa yang dialami bersama pasangannya di rumah. Padahal Islam mewajibkan untuk stop mengobral masalah ranjang.

Tidak dimungkiri, seks merupakan topik obrolan yang selalu hangat dibicarakan. Namun dalam mengobrolkan seks tetap harus menjaga anonimitas. Tidak boleh ada nama disebut. Mengobral pengalaman intim bersama pasangan di rumah, sekalipun yang dirrasakan kebanggaan, tetap saja merupakan aib. Apalagi jika yang diumbar-umbar adalah sebuah curcol yang berisi kekecewaan, malah kerugian berganda yang didapat.

Suatu ketika Baginda Rasulullah Muhammad Saw tengah duduk-duduk bersama kaum pria dan perempuan. Beliau pun membuka pembicaraan, “Adakah seorang laki-laki menceritakan apa yang dilakukannya (bersebadan) bersama istrinya, dan adakah seorang perempuan menceritakan apa yang dilakukannya bersama suaminya?”

Semua orang di sekeliling Rasulullah Saw terdiam. Tidak ada yang berani menjawab. Sejurus kemudian Asma’ bin Yazid menukas,Ada, demi Allah, wahai Rasulullah! Kaum perempuan melakukannya. Kaum laki-laki juga melakukannya.”

Rasulullah Saw pun bersabda, “Jangan lakukan hal itu! Sebab pereumpamaan hal itu seperti setan jantan bertemu setan betina di suatu jalan, lalu ia menyetubuhinya, sedang orang-orang di sekelilingnya melihatnya.(Musnad Ahmad,  6/456)

Pada hadis lain, yang diriwayatkan oleh Sa’d bin Malik Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya, seburuk-buruk kedudukan manusia di-sisi Allah Swt pada hari kiamat ialah seorang suami yang melakukan hubungan ranjang, kemudian sang suami menceritkan itu kepada orang lain.” (Shahih Muslim, no. 2605)

Penyebutan kata “rijal” atau suami pada hadis tersebut tentu saja juga berlaku kepada kaum perempuan, sebagaimana terjadi pada muatan hadis yang diriwayatkan oleh Asma’. Penyebutan kata “rijal” pada hadis riwayat Sa’d bin Malik Ra dikarenakan pada zaman Rasulullah Saw, kaum laki-laki lebih sering mengobral urusan ranjangnya ketimbang kaum perempuan.

Baca juga:  Kapan Sebaiknya Pasangan Suami Istri Bercinta? [Bagian 1]

Apa yang dimaksud dengan mengobral urusan ranjang bisa berbentuk ucapan, perbuatan, dan yang semisalnya. Imam Nawawi bahkan mengatakan bahwa sekedar menyebut istilah jimak” saja, tanpa ada keperluan tertentu, hukumnya sudah makruh (dibenci Allah Swt). Sebab, menurutnya, ucapan seperti itu melampaui muru’ah atau kehormatan diri. (Syarah Nawâwi ‘alâ Muslim, 10/8)

Apa yang dimaksudkan Imam Nawawi sesungguhnya juga berlaku pada sebagian masyarakat yang enggan atau risih saat menyebut hubungan intim dalam bahasa lokal masing-masing, karena dianggap jorok dan kasar. Tidaklah mengherankan banyak istilah dan kode yang berlaku pada pasangan suami istri ketika hendak menunaikan hajatnya, mulai dari makan “burung”, minta ditusuk-tusuk, mengetik, main kuda-kudaan atau kebo-keboan, dan sebagainya.

Tentu saja, untuk tujuan pembelajaran seperti maksud tulisan ini, penggunaan istilah “jimak” dan yang semacamnya masih diizinkan, karena jika menggunakan istilah lain belum tentu dapat menjelaskan suatu masalah secara jernih.

Namun, di zaman sekarang yang serba gampang menggunakan informasi lewat perangkat multimedia, misalnya saja dalam penggunaan telepon seluler di mana kamera dan media sosial berupa facebook, youtube,  twitter, dan sebagainya amat mudah digunakan, orang akan sangat potensial melanggar pantangan yang satu ini.

Bahkan tidak sedikit yang telah salah kaprah dalam mengekpresikan rasa cinta dan sayang kepada istri maupun suaminya, sehingga enteng saja memuji kemampuan suami atau istrinya di ranjang dalam sebuah status, sekalipun itu hanya berupa kalimat, “Nanti malam lagi yah pah…(lalau dibubuhi emoticon pipi bersemu merah).”

Comment

Artikel Lainnya