by

Tiga Tafsir Ayat Poligami

Islam-detik.com – An-Nisa ayat 3 atau surah An-Nisa ayat ke-3 sering dirujuk sebagai dasar hukum kokohnya poligami dalam Islam. Menurut sebab-sebab turunnya (asbâb an-nuzûl), ayat itu terkait dengan kebiasaan orang Arab yang tidak berlaku adil kepada anak yatim yang berada dalam pengasuhannya. Mereka terbiasa menguasai harta anak yatim dan tak mengembalikannya ketika si yatim telah akil balig. Sering pula terjadi, anak-anak perempuan yatim yang mewarisi harta banyak sengaja dinikahi tanpa memberikan mahar kepadanya, dan kemudian hartanya dikuasai.

Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa ‘Urwah ibn Zubair bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang sebab turunya ayat An-Nisa 3. Sayyidah Aisyah RA menjawab: “Wahai putra saudaraku! Ada anak yatim perempuan dalam asuhan walinya, ia berserikat dengan anak yatim itu dalam harta (walinya menguasai harta anak yatim), dan ia tertarik akan harta dan kecantikan anak yatim itu, karena itu si wali hendak menikahinya tanpa memberi mahar, dan memberikan harta kepada anak yatim yang dinikahinya tidak sesuai dengan harta yang dimiliki anak yatim tersebut. Maka mereka dilarang untuk menikahinya, kecuali mereka berlaku adil dan mengembalikan harta setelah anak yatim dewasa, dan mereka disuruh untuk menikahi perempuan yang mereka senangi selain anak yatim (dalam asuhan mereka).” (H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i)

Poligami boleh, namun syaratnya KETAT!

Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir (4/234-235) mengatakan bahwa perintah poligami pada An-Nisa 3 hukumnya boleh-boleh saja, bukan suatu kewajiban. Alasannya, perintah poligami tersebut sama seperti perintah untuk makan dan minum sebagaimana terdapat di surah Al-Baqarah/2 ayat ke-187. Menurutnya, kalau pun poligami harus dilakukan, maka hal itu harus didasari prinsip keadilan di antara para istri.

Baca juga:  Anak-anak Kita menjadi Yatim sebelum Waktunya

Syekh Wahbah selanjutnya mengatakan bahwa keadilan di situ berarti keadilan di dalam membagi giliran, adil dalam memberi pangan, sandang, dan papan. Sementara keadilan yang terkait dengan masalah hati, seperti kecenderungan dan cinta, maka tidak termasuk di dalam hal kesanggupan manusia.

Hal itu telah dijelaskan oleh Allah SWT di dalam surah An-Nisa/4 ayat 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Lantaran hal itu pula, Nabi Muhammad SAW suatu kali berdoa kepada Allah SWT begini: “Ya Allah, inilah caraku menggilir dari apa yang aku miliki (sanggupi), maka janganlah Engkau mengazabku disebabkan apa yang tidak aku miliki (tak menyanggupinya).”

Terkait kandungan hadis tersebut, banyak ulama mengatakan bahwa bahkan Rasulullah SAW sendiri dalam masalah hati (cinta) tidak dapat memperlakukan para istri beliau secara adil.

Sebagaimana diketahui, Rasulullah SAW sendiri menyadari bahwa kecintaan beliau kepada Sayyidah Aisyah RA lebih besar jika dibandingkan kepada para istri lainnya. Namun, perlu ditambahi catatan lain bahwa cinta beliau kepada istri pertamanya justru lebih besar lagi, hal yang membuat Sayyidah Aisyah RA selalu merasa cemburu kepada Sayyidah Khadijah RA yang telah tiada.

“Dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Rasulullah itu hampir tidak keluar rumah kecuali menyebut Khadijah dan memuji-mujinya. Aku pun cemburu, lalu aku berkata pada beliau: ‘Bukankah dia hanya perempuan tua yang telah diganti oleh Allah dengan yang lebih baik?’ Beliau pun lalu marah, kemudian berkata: ‘Demi Allah. Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Dia beriman di saat orang-orang masih kufur. Dia mempercayaiku di saat yang lain mendustakanku. Dia membantuku di saat yang orang-orang menghalangiku. Allah telah memberikan rezeki anak melalui dia dan tidak melalui yang lain’.” (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Baca juga:  Menyiapkan Malam Pengantin Baru [Bag. 4]

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi di dalam Tafsir al-Wadhih (1/336). Akan tetapi, beliau menegaskan bahwa keadaan harmoni dalam rumah tangga adalah hal utama. Karena itu, jika poligami justru menyebabkan kehancuran rumah tangga, maka sebaiknya tidak dilakukan. Hal ini sesuai dengan prinsip di dalam ushul fikih yang menyatakan: “Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menarik perbaikan (manfaat).” Tentu saja prinsip ini tidak berlaku jika seandainya dengan poligami justru dapat menambah keharmonisan rumah tangga.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Q.S. An-Nisa/4: 3)

Comment

Artikel Lainnya